Kisah dari Tanah Misi Tofoi (Papua Barat)

0
578

Hari ini, 27 Juli 2012 aku memulai journey ketiga stasi jalur darat, berjarak 120-an km. Setiap minggu ke-5 kami mengadakan kunjungan stasi-stasi jalur darat, karena sulitnya transportasi. Kalo mau ngojek dari pastoran perlu Rp 1,5 juta-an untuk sekali jalan.

kisah
Berhari-hari aku berdoa: “Tuhan, semoga minggu ini cuaca bagus, tidak hujan, supaya jalan kering dan aku bisa melakukan journey dengan ‘Vega ZR berkat’ (hehehe… soalnya motor sumbangan) dan perjalanan lancar.”
Ditemani Om Donatus aku mulai perjalananku. Lancar… walau mendung menggelayut, tapi kira-kira sampai kilometer 60-an si Vega masih bisa melaju. Namun apa mau dikata…. tak lama kemudian hujan mulai turun. Jalan lumpur tanah merah mulai becek dan lengket. Si Vega mulai terseok-seok ke kiri dan ke kanan. Om Don mulai jalan kaki (daripada terpelanting berdua, hehehe…). Akhirnya aku menyerah. Aku bilang: “Om, motor kita tinggal di sini saja. Kita jalan kaki ke stasi Moniara (stasi terdekat dari 3 stasi yang akan kami kunjungi)”. Si Vega kuparkir di pinggir jalan dengan bermahkota tutupan ranting-ranting. Aku dan Om Don mulai jalan kaki dengan menenteng tas kami. (Para pendahulu, seperti Rm Bijanta, Seve, Hatmoko, Gunawanm pasti pernah mengalami yang lebih berat).
Aku jadi teringat ketika tugas di Jawa dulu: ‘Sesulit-sulitnya di Jawa, semua masih mudah dan tersedia. Namun kadang aku masih mengeluh kurang ini dan kurang itu.’ Lalu sambil berjalan aku berkata: “Syukur, aku masih boleh mengalami jalan kaki” dan aku bilang kepada Om Don: “Tuhan sedang iseng menguji kita: masih mau jalan terus, atau menyerah, hahaha….”
Keringat bercucuran menemani perjalanan kami. Wah, ternyata Moniara masih jauh juga. Hampir 3 jam kami berjalan (ngos-ngosan juga, karena sudah lama tidak berjalan jauh). Capek, pegel kaki, campur aduk… namun akhirnya sampai juga… Tuhan menyambut kami melalui anak-anak yang langsung berkumpul di pastoran: nyanyi bareng, latihan berhitung, latihan menghafal huruf dan membaca.
Terima kasih untuk hari ini, Tuhan. Aku mau tidur dulu. Semoga pegel dan capekku terobati. (Martinus A. Paryanto CM)