Karisma Vinsensian, Spiritualitas Vinsensian Dan Jalan Hidup Kita

0
1238
Oleh: Juan Patricio Prager, Provinsi Equador
(Presentasi ini diberikan pada waktu pertemuan
Keluarga Vinsensian Amerika Latin, di Guatemala – 19 maret 2015)

 

  1. Pendahuluan

 

Tema yang diberikan kepada saya berakar pada pengalaman Vinsensian dari Yesus sendiri.  Karisma Vinsensian dan spiritualitas Vinsensian berpusat pada perjumpaan dengan Kristus yang miskin yang hadir dalam diri orang-orang miskin. Ada dua pertanyaan kunci yang St. Vinsensius harus jawab: Siapakah Yesus? Bagaimana saya mengikuti Yesus? Selama proses pertobatan, secara bertahap Vinsensius mulai memahami arti dari dua pertanyaan itu. Pertobatan Vinsensius merupakan sebuah proses pengenalan akan Yesus dan pada gilirannya menghayati jalan kemuridan, jalan Kerajaan Allah.

Ketika Vinsensius menapaki jalan kecil itu dia memberi makna pada karisma dan spiritualitas, ia pun membuka diri sehingga tercipta  kehidupan yang terpusat pada karisma tersebut. Di sini jelas bahwa Yesuslah yang mengambil inisiatif. Yesus menyampaikan undangan dan Vinsensius berjuang untuk memberikan jawaban. Kristus yang miskin telah hadir dan Vinsensius pun membuka dirinya terhadap realitas tersebut. Semangat Yesus dinyatakan dan Vinsensius menanggapinya dengan mempersembahkan hidupnya.

Karisma yang Yesus anugerahkan kepada Vinsensian adalah pelayanan demi kepentingan orang miskin. Karisma itu merupakan karunia Roh Kudus…sebuah karunia untuk membangun Kerajaan Allah. Karisma selalu berhubungan dengan Kerajaan Allah. Elemen evangelisasi dari karisma Vinsensian yang mesti digarisbawahi yakni bahwa Kerajaan Allah diperuntukkan bagi mereka yang miskin. Karisma itu bukanlah gagasan atau ide yang ditemukan Vinsensius a Paulo tetapi lebih dari itu karisma itu merupakan karunia Allah yang mewarnai seluruh perjalanan hidup Vinsensius.

Karisma adalah sebuah misteri. Pemahaman akan karisma akan diperoleh lewat pembelajaran sejarah dan pengalaman para Vinsensian. Tidak seorang pun…termasuk Vinsensius…dapat memahami secara utuh semua konsekuensi yang menyertai penerimaan karunia itu. Sedikit demi sedikit  Roh Kudus menuntun kita dan memampukan kita untuk dapat menghidupi karisma di tengah situasi-situasi baru. Roh Kudus selalu menyatakan anugerah-anugerah baru, ide-ide baru dan gaya hidup baru yang membuat setiap orang pada akhirnya mampu menghidupi karisma.

Karisma selalu mengandung unsur “Call-Response” (panggilan dan tanggapan) yang dinamis. Kristus yang miskin memanggil kita dari daerah periferi/pinggiran dan Dia mengundang kita untuk memberi respon atasnya. Spiritualitas Vinsensian adalah tanggapan atas panggilan Kristus yang miskin yang tinggal di tengah-tengah mereka yang paling miskin. Hal tersebut menandakan bahwa Spiritualitas Vinsensian bukanlah sekedar sebuah referensi berseri yang ditulis oleh para pendiri kita, juga bukan semacam formula doa atau keutamaan atau karya-karya, atau sikap atau tindakan saleh. Lebih dari itu, Spiritualitas Vinsensian adalah tentang bagaimana mengikuti Yesus yang hadir di antara mereka yang paling miskin dan tersingkir dari masyarakat. Tentu saja semua realitas orang miskin dimana pun, yang utama membantu kita untuk mengikuti Yesus, Pewarta kabar gembira.

Perkenankan saya sekarang memaparkan lima karakteristik spiritualitas Vinsensian yang memungkinkan kita untuk menghidupi karisma.

 

 

 

 

  1. Lima karakteristik Spiritualitas Vinsensian
    • Tuhan memimpin kita di tengah dunia

 

Dalam pribadi Yesus, Allah masuk ke dunia kita menjadi saudara dan Juru selamat. Allah tidak menyelamatkan kita dari tempatNya yang tinggi atau dari tempat lain di luar sana, namun mengambil bagian dalam kehidupan manusia. Kita tidak membawa Kristus ke dunia! Namun sebaliknya, Tuhanlah yang memimpin kita masuk ke tengah-tengah dunia. Dunia adalah ciptaan Allah, tempat rahmat Allah dan tempat keselamatan kita. Memisahkan diri kita dari atau mencoba lari dari dunia bukanlah tindakan yang mencerminkan jalan Vinsensian. Ya, dosa berada di dunia dan ada elemen-elemen yang mengaburkan dan menghilangkan kehadiran Allah, itulah yang menodai gambar Allah. Tetapi seperti St Paulus nyatakan bahwa dimana dosa bertambah, rahmat semakin berlimpah.

Spiritualitas Vinsensian itu berkomitmen dengan dunia. Masalah-masalah dunia adalah juga masalah kita. Seluruh penderitaan dan kelemahan saudara-saudari kita tidak asing bagi kita. Mungkin kita tidak memiliki jawaban atas semua persoalan mereka. Sekalipun demikian, kita tetap berdiri bersama mereka, saling bahu membahu, dan bersama semua orang yang melakukan perziarah di dunia, kita hadir pada realitas dunia saat ini. Di sini, semua tugas tersebut kiranya menjadikan kita semakin lebih manusiawi.Kita berada di dunia sebagai manusia yang membawa pesan Injil. Evangelisasi bukan sekedar berkatekese atau merayakan Sakramen-sakramen. Lebih dari itu Evangelisasi adalah pembebasan dari setiap kejahatan yang menindas manusia…untuk membangun relasi baru dengan Allah Bapa dan dengan saudara-saudari kita.

Kabar baik dari Injil bukanlah kabar baik sebab saya mengatakan demikian , tetapi karena manusia, pria dan wanita mengalami transformasi dalam situasi kejahatan mereka. Evangelisasi tidak mulai dengan kata-kata saleh atau penghafalan ayat-ayat Kitab Suci, tetapi evangelisasi mulai dengan menjawab atau memberi tanggapan terhadap kabar-kabar buruk dimana mereka sangat menderita: kelaparan, pengangguran, konflik, kekerasan, hidup kurang berarti, kemiskinan.

 

2.2 Tuhan menunggu kita di antara orang miskin

 

Ketika Kristus memanggil kita untuk mengikutiya, Dia melakukan juga dari tengah-tengah orang miskin…. Dan dari antara orang miskin, kita didorong untuk menjawab: siapakah Tuhan? Siapakah orang miskin? Bagaimana kita sendiri berekonsiliasi  bersama orang miskin? Ini merupakan sendi utama dalam spiritualitas kita. Maka perkenankan saya mengajukan tiga klarifikasi:

  • Orang miskin memiliki nilai dalam diri mereka. Saya sama sekali tidak menjangkau orang miskin sebab Kristus hadir dalam diri mereka. Saya menjangkau mereka sebab mereka adalah saudara-saudari saya yang menderita. Mereka merupakan prioritas utama dalam Kerajaan Allah dan oleh karena itu, saya peduli pada orang miskin sebab mereka secara pribadi mempunyai martabat manusiawi, mereka adalah subyek dari hidup mereka pribadi dan bukan semata penerima simpati dan sedekah.
  • Kristus memanggil kita untuk melayani orang miskin, bukan hanya “orang miskin yang baik”. Pada suatu saat kita berbicara tentang diinjili oleh orang miskin. Saya tidak yakin bahwa kita mengerti kalimat itu dengan benar. Kita berbicara tentang orang miskin yang baik, mereka yang mengikuti Misa, menghayati kehidupan moral yang baik, mau berbagi dari kekurangan mereka sendiri. Akan tetapi, saya yakin bahwa panggilan itu untuk melayani orang miskin, entah mereka baik entah mereka tidak baik. Kita tidak bisa bertanya pada orang-orang siapakah orang miskin yang layak dan tidak layak untuk dilayani, lalu berdasarkan tanggapan itu kita melayani orang miskin yang dianggap layak. Ya bahkan orang yang tidak baik akan menginjili kita dan kita dipanggil untuk mencintai meraka yang tidak dicintai. Seringkali mereka yang tidak dicintai, merekalah yang akan membantu menempatkan kita pada situasi dimana kita dapat mengenal kedosaan dan kelemahan kita…Mereka yang tidak dicintai mengundang kita untuk menjadi pribadi yang berbelaskasih.
  • Kahadiran Kristus bersifat sakramental. St Vinsensius berbicara tentang “Encountering” (perjumpaan) Kristus dalam orang miskin dan bukannya bicara tentang “Seeing” (melihat)  Kristus dalam orang msikin. Hal ini karena Kehadiran Kristus bersifat sakramental dan bukan fisikal. Berbicara melihat Kristus dalam diri orang miskin akan menciptakan kebingungan sebab itu cara bicara yang saleh tetapi tidak sesuai dengan pangalaman kita. Jika secara harafiah “melihat” Kristus dalam diri orang miskin berarti seseorang menjadi mistik (dan tidak banyak para mistik) atau seseorang perlu bantuan professional. Berbicara tentang “melihat” Kristus dalam orang miskin menciptakan sebuah dunia fantasi dan ekspektasi yang keliru.Pengalaman Kristus dalam orang miskin adalah sakramental. Ini adalah pengalaman iman yang menceritakan kepada saya bahwa perjumpaan dengan orang miskin lebih dari pada peristiwa yang berlalu begitu saja. Ini bukanlah merupakan bukti kebenaran diri, tetapi lebih sebagai buah dari iman, dipenuhi refleksi atas perjumpaan dengan orang miskin. Seringkali saya hanya menjadi lebih sadar akan kehadiran Kristus setelah berjumpa dengan orang miskin.

 

2.3 Kristus mengundang kita untuk berpartipasi dalam misi

 

Mengikuti Kristus di tengah orang miskin berarti kita adalah misionaris. Roh Misionaris bukanlah hasrat untuk berjalan dan pindah dari tempat yang satu ke tempat yang lain. Kenyataannya, pergi dari satu tempat ke tempat lain justru memungkinkan kita menemui rintangan lebih banyak daripada memberi elemen positif dalam misi. Menjadi misionaris berarti meninggalkan dunia yang layak dan tempat yang nyaman di dunia agar masuk ke dunia yang lain; meninggalkan tempat yang satu agar masuk ke tempat orang miskin dan menemani orang miskin dengan Injil. Ini tugas yang sulit. Dari perspektif ekonomi dan sosial kita mungkin berada di tengah, sementara orang miskin hidup di periferi (pinggiran)…dan pada pinggiran itu ada realitas yang berbeda, nilai berbeda, budaya yang berbeda, ekspresi religius yang berbeda. Di sini kita tak perlu menunjuk pada perubahan geografis tetapi lebih pada menjadi seorang misionaris, seorang beradaptasi pada realitas orang miskin. Bahaya bagi setiap misionaris yakni memaksakan realitas yang satu kepada yang lain: jalanku adalah satu-satu jalan; ungkapan religiusku adalah satu-satunya yang paling benar, saya tahu apa kebutuhan orang miskin dan apa yang mereka inginkan (tanpa harus bertanya pada mereka). Di sinilah keutamaan Vinsensian mengambil peran penting: Kerendahan hati untuk mendengarkan dan menemani tanpa memerintah, kesederhanaan untuk mengerti doronganku yang sejati berkenaan dengan misi, matiraga untuk mengorbankan sesuatu demi kebaikan mereka yang miskin, kelembutan hati untuk menyelesaikan perpecahan budaya, cinta kasih dan ungkapan penyelamatan jiwa-jiwa untuk memasuki dunia baru. Untuk mengungkap ini secara sederhana: tantangan misionaris adalah mengetahui bagaimana hidup dan berbagi Injil dalam realitas lain.

 

2.4 Kristus duduk bersama kita dalam doa

Vinsensius berbicara tentang menjadi kontemplatif dalam tindakan…dia tidak bercerita kepada kita bahwa kita harus menjadi rahib atau biarawan, tidak juga mempromosikan sebuah penyakit rohani yang memisahkan hidup spiritual dengan hidup kerasulan (pastoral). Agaknya Vinsensius menyemangati kita untuk mengikuti Kristus dan injilNya untuk menerangi situasi hidup kita yang berbeda. Kita diundang untuk terlibat dalam dialog personal dengan Kristus tetang pengalaman kita di tengah orang miskin: tanda dan kerajaan Allah, reaksi personal maupun batin kita, kemungkinan komunitas, dsb. Doa bukanlah sesuatu yang kita lakukan untuk Tuhan tetapi terlebih sesuatu yang Tuhan kerjakan bagi kita. Dalam dialog dengan Allah, Allah membuat kita lebih sensitif akan kehadiranNya dalam sejarah. Allah menanyai kita, menguatkan kita dan menunjukkan jalan kasih dan keadilan dan kebebasan.

 

2.5 Kristus memampukan kita untuk menjadi murah hati.

Tujuan spiritualitas kristiani adalah kasih. Ketika berbicara tentang spiritualitas vinsensian, kasih itu lebih spesifik karena merujuk pada komunikasi belaskasih dan solidaritas bagi pribadi yang tersingkir dari masyarakat. St Vinsensius sering berbicara tentang Penyelenggaraan Ilahi yang tidak seharusnya dimengerti sebagai bentuk nasib baik orang kristiani. Kita keliru jika kita memahami Penyelenggaraan Ilahi berarti bahwa hal-hal akan berubah pada kebaikan. Penyelenggaraan Ilahi adalah keinginan Allah untuk menyelamatkan semua anak-anakNya dari kejahatan. Kita semua berada di tangan Allah dan Allah kita menciptakan kemungkinan baru untuk hidup: persaudaraan, organisasi, keadilan, rekonsiliasi, dsb. Kita berbagi apayang kita terima dari Allah, yakni belaskasihNya. Bahkan ketika hal-hal tidak menjadi baik, Penyenggaraan Ilahi masih hadir. Kristus dan pengikutiNya selalu mencari kebaikan bagi saudara dan saudari mereka dan mempersembahkan mereka harapan akan sesuatu yang baru.

Cinta kasih sama sekali bukanlah karya dan proyek. Lebih dari itu adalah karya perjumpaan antara sadaura-sadarari kita. Gustavo Gutierrez berkata: Kamu berkata, kamu mengasihi orang miskin, siapakan nama mereka? Sangatlah memungkinkan untuk mengasihi mereka tanpa mendengarkan mereka, tanpa memberikan waktu kita dan hidup kita. Akhirnya, spiritualitas Vinsensian berarti kita memasukkan diri kita di antara orang miskin agar mencintai mereka sebagai saudara dan saudari.

 

  1. Gaya hidup

Ciri spiritualitas Vinsensian adalah terinkarnasi dalam gaya hidup. Gaya hidup termasuk struktur (organisasi) kelompok kita, karya kita, ungkapan religius kita, dsb. Dalam kebersamaan kita dari aneka budaya dan bangsa. Saya tidak mencoba menyebutkan semua kemungkinan yang berbeda. Mungkin di kelompok kecil kita bisa lebih baik memahami realitas itu. Di sini saya secara sederhana ingin menyebutkan beberapa elemen yang dapat membantu kita dalam refleksi kita atas gaya hidup kita.

  • Formasio: kita harus memeriksa atau menguji cara dimana kita menyiapkan anggota dari cabang keluarga Vinsensian yang berbeda. Apakah formasio itu memungkinkan mereka memasukkan diri mereka dalam hidup orang miskin? Apakah formasio kita menciptakan seorang misionaris yang bersikap mendengarkan dan beradaptasi? Apakah kita sungguh-sungguh menghadirkan spiritualitas Vinsensian?
  • Dialog dengan orang miskin: Mengerjakan sesuatu untuk orang miskin tidaklah cukup. Pertanyanyaan paling penting adalah apakah kita mendekati orang miskin sebagai saudara dan saudari yang mendengarkan mereka? Kita harus menciptakan struktur dan kesempatan sehingga orang miskin dapat berbicara dan memberikan pendapat berkaitan dengan pelayanan kita.
  • Kerja Tim: salah satu tanda kerajaan Allah adalah membangun sebuah komunitas. Salah satu tanda yang bertentangan dengan Kerajaan Allah adalah ketidakmampun bekerja sebagai tim. Di sana dibutuhkan untuk menciptakan ikatan antar cabang-cabang keluarga Vinsensian, kelompok lain dan dengan meraka yang miskin.
  • Refleksi apostolik. Sangat penting merefleksikan pelayanan kita demi kepentingan orang miskin. Kita harus bertanya serius dan jujur tetang kerasulan kita: apakah yang kita kerjakan? Mengapa kita melakukan ini dengan cara yang kita lakukan? Apa yang sebenarnya dibutuhkan orang miskin? Apakah yang utama yang dibutuhkan mereka? Siapa orang-orang yang sedang kita layani? Apakah yang Injil katakan mengenai pelayanan kita?

 

  1. Pertanyaan untuk dialog dalam kelompok kecil: Apakah gaya hidup kita (pelayanan, organisasi/struktur, ungkapan-ungkapan iman kita, dsb.) memimpin kita pada jawaban yang fleksibel atau menjadi sebuah rintangan bagi pelayanan kita demi kepentingan orang miskin?

 

Diterjemahkan oleh: Rm. Yusuf, CM