PENYELENGARAAN ILAHI DALAM HIDUP VINSENSIUS

0
374

oleh Sr. Yosephine Purba, KYM

Tulisan ini menyajikan secara ringkas kisah hidup St. Vinsensius, terutama beberapa pengalaman yang amat menentukan penemuan tujuan hidupnya (panggilannya). Dari rangkaian pengalamannya kita akan melihat hal-hal berikut: siapa yang dimaksudkan oleh Vinsensius Penyelanggaraan Ilahi (PI), bagaimana Vinsensius membuka diri kepada PI itu dan bagaimana Vinsensius menjalin relasi denganNya.
Teks Kitab Suci yang berbunyi “carilah maka kamu akan mendapat” benar merupakan sebuah realitas dalam hidup Vinsensius. Vinsensius mencari dan menemukan jalan hidupnya.
Mencari Dan Menemukan

Dia lahir dalam keluarga petani kecil di desa Pouy, dekat kota Dax (Prancis Selatan) pada tahun 1581.
Ketika ia beranjak remaja berkat kecerdasannya orang tuanya mengirimnya untuk studi di kota Dax- hal yang tak biasa dalam keluarga petani zaman itu; dengan sebuah harapan, kelak setelah anaknya studi, anak akan menjadi seorang yang terpelajar, lalu kemungkinan untuk memperoleh jabatan tertentu dalam masyarakat, yang sekaligus membawa kehormatan bagi anak dan keluarga pun terbuka untuk diperoleh. Bila harapan ini tercapai status sosial ekonomi keluarganya akan menjadi lebih baik dan terpandang. Vincensius sendiri sadar akan harapan orang keluarganya. Dia juga tahu bahwa menolong keluarganya merupakan salah satu tanggungjawabnya. Hal ini tampak dari surat yang ditulisnya untuk ibunya, ketika ia masih di Paris. Vinsensius a.l. mengatakan ia belum dapat menolong orang tuanya karena ia belum mendapat pekerjaan.
Di Dax, semula ia tinggal di asrama sekolah yang dikelola Fransiskan tapi kemudian untuk menghemat biaya, dan karena kerajinan dan tanggungjawabnya dia diterima menjadi tutor studi dalam keluarga de Comet, seorang hakim. Ia sangat disukai oleh keluarga ini, dan didukung untuk menjadi imam. Vinsensius sendiri menerima tawaran untuk menjadi imam. Ia melanjutkan pendidikannya ke Universitas Toulouse. Di universitas ini ia belajar teologi.
Kepergian Bapaknya memaksa ia lebih mandiri. Setelah bapaknya meninggal dunia Vinsensius tetap melanjutkan pendidikannya, tapi dengan biaya yang diusahakan sendiri dengan menjadi tutor di asrama. Ketika ia masih studi di universitas, ia sudah menerima tahbisan imam di Château l’Évêque dalam usia yang sangat muda, 19 tahun. Bukan karena Vinsensius ingin cepat-cepat melakukan karya pastoral, melainkan karena terdesak oleh kebutuhan memperoleh kerja yang mendatangkan in come bagi dirinya dan keluarganya. Sayang, dia tidak jadi bekerja di paroki yang telah dia harap-harapkan karena ada imam lain yang telah ditempatkan di paroki itu. Vinsensius gagal.

Setelah menyelesaikan studinya, ia berjuang kembali untuk merealisasikan idaman hidupnya. Ia beruntung, ada seorang ibu tua yang memberikan warisan kepadanya, tapi dalam bentuk pinjaman. Si ibu ini menyerahkan uang tersebut untuk Vinsensius, dengan syarat Vinsensius sendiri mengambil uang tersebut dari peminjam. Dengan senang hati Vinsensius pergi mengambil uang tersebut. Tapi sial, dia ditangkap oleh pirates ketika ia pulang. Peristiwa ini berakhir dengan sebuah tragedy; dia dijual menjadi budak. Vinsensius gagal lagi.
Vinsensius pergi ke Roma. Dia terpesona dan terharu bahwa ia boleh menginjakkan kakinya di kota suci itu dimana rasul Yesus (St. Petrus) dimakamkan dan para penggantinya. Vinsensius senang pulang ke Paris a.l. karena cardinal d’Ossat (dari Roma) menjanjikan sebuah posisi yang baik untuknya di Paris. Apakah kali ini Vinsensius berhasil? Tidak. Posisi menguntungkan yang dijanjikan tak kunjung tiba. Upayanya untuk mendapatkan karir yang baik, berakhir dengan tangan kosong. Gagal lagi…itulah realitas yang dihadapkan padanya.
Masih ada pengalaman yang melumpuhkannya yakni tuduhan teman sekostnya. Vinsensius dituduh mencuri uangnya dan tuduhan itu disebarkan pada orang lain. Pasti Vinsensius malu, orang-orang disekitarnya melihatnya sebagai pencuri walaupun bukan dia yang mencurinya.
Kita bertanya, kemana arah perjalanan selanjutnya dari Imam muda ini, pribadi yang melihat dan memahami imamatnya sendiri sebagai sarana meraih sukses dalam karir, mata pencaharian? J.M. Román CM, orang yang telah membuat study mendalam tentang hidup Vinsensius, melaporkan, cara pandang Vinsensius terhadap imamatnya lajim pada zaman itu. Vinsensius anak zamannya bukan? A.l. keadaan seperti inilah yang mengakibatkan kebobrokan Gereja zaman itu. Kita ikuti bagaimana perkembangan tokoh kita ini.
Saya sebut secara singkat saja. Vinsensius pernah mengalami godaan iman yang berat. Seperti Román katakan, tidak dapat diragukan godaan ini merupakan suatu percobaan yang mengerikan. Goncangan iman yang hebat mendera dirinya. Tapi godaan ini memurnikan hatinya, memberi kepadanya suatu pandangan yang baru mengenai segalanya dan goodaan berakhir, seperti dikatakan Abelly, ketika dia berjanji akan membaktikan seluruh hidupnya dalam pelayanan terhadap orang miskin demi cinta kepada Yesus. Akankah pengalaman pahit ini menjadi titik balik menuju perjalanan hidup yang lebih membagiakan batinnya? Jawabannya, ya! Perlahan-lahan dia meinggalkan persepsinya tentang imamat sebagai karir, sarana mengubah satus sosial ekonomi, setelah ia telah mendapatkan visi baru tentang imamat, suatu visi rohani dan religius.
Vinsensius masih tinggal di Paris. Thn. 1610 dia mencari pembimbing rohani. Dia bertemu dengan Pierre de Bérulle (1575-1629), orang yang masuk dalam gerakan pembaharuan Gereja Perancis. De Bérulle berasal dari keluarga bangsawan, saleh, terpelajar, dan memiliki gagasan yang cemerlang dan mendalam. Dialah yang berhasil membangkitkan Vinsensius dari keadaannya yang serba lesu; dialah yang membantu Vinsensius untuk mengatasi beberapa krisisnya hidupnya yang menentukan: Tuduhan sebagai pencuri dan godaan tentang iman. De Bérulle jugalah yang memperoleh bagi Vinsensius tugas pastoralnya yang pertama sebagai Pastor Paroki Clichy. Dia senang bekerja di paroki ini; kemudian Vinsensius masuk keluarga de Gondi berkat campur tangan de Bérulle. Pendeknya, Vincentius menempuh langkah-langkah pertama menuju pertobatan dan penemuan panggilannya dalam bimbingan de Bérulle.
Tahun 1617, ketika dia berusia 36 tahun, terjadilah dua pengalaman rohani yang menentukan seluruh hidup Santo kita ini yaitu pengalaman Folleville dan pengalaman di Châtillon. Semua ini diluar rencananya.

Penglaman Folleville

Apa yang terjadi di Gannes/Folleville? Dia dipanggil untuk menerima pengakuan dosa seorang yang sakit parah. Orang itu terpandang sebagai salah seorang yang baik, paling tidak sebagai salah seorang umat yang terbaik di desa itu. Tetapi ternyata dia penuh dosa berat, yang tak pernah diakukannya karena dia malu. Itulah yang dikatakannya kepada Ny. de Gondi: “Ibu, apabila saya tadi tidak melakukan pengakuan dosa seluruh hidupku, maka saya akan binasa selamanya karena sebelumnya saya tidak berani menyatakan dosa-dosa itu dalam pengakuan dosa”. Kemudian orang itu meninggal dan Ny. De Gondi mengusulkan supaya hari berikutnya Vinsensius memberi khotbah mengenai thema yang sama, karena dari penglaman baru itu, Ny. de Gondi menyadari betapa perlunya pengakuan dosa seluruh hidup.
Pada hari berikutnya Vinsensius berkhotbah dan ternyata demikian diberkati Tuhan sehingga semua penduduk daerah itu datang untuk melakukan pengakuan dosa seluruh hidup. Berkat keberhasilan ini, hal yang sama dilakukan selama beberapa di paroki-paroki lain yang terletak di daerah kekuasaan keluarga de Gondi. Lebih jauh Ny. de Gondi akhirnya memutuskan untuk menyediakan jaminan hidup bagi beberapa imam, agar mereka dapat melanjutkan karya misi itu.
Inilah yang terjadi di Gannes, yaitu pengakuan dosa petani itu, dan selanjutnya di Folleville, tempat khotbah misi. Peristiwa ini amat menggugah hati Vinsensius, Sedemikian dalam baginya hingga ia mengatakan khotbah di Folleville itulah khotbah missi yang pertama. Dan bagi Vinsensius Kongregasi Misi lahir di tempat ini, meskipun saat itu tidak didirikan apa-apa. Hal ini dapat berarti pada saat itulah dia menyadari panggilannya, atau mengerti apa yang perlu dia kerjakan di dalam Gereja. Kongregasi didirikan secara resmi baru delapan tahun kemudian, 17 April 1625. André Duvallah (1564-1638) (pembimbing rohani Vinsensius yang ke dua, menggantikan de Bérulle) yang berjasa untuk Vinsensius a.l. meyakinkannya mendirikan Kongregasi misi.

Pengalaman di Châtillon

Vinsensius mengatakan “Pernah Penyelenggaraan Ilahi memanggil saya menjadi Pastor Paroki di satu kota kecil dekat Lyons. Pada suatu hari Minggu, sementara mengenakan pakaian Misa, seseorang memberitahukan bahwa di suatu rumah terpencil, kira-kira satu kilometer dari Gereja Paroki, semua anggota keluarga sakit. Tidak seorang pun dapat merawat yang sakit dan kemiskinan mereka sangat menyedihkan. Saya benar-benar terharu. Dalam khotbah, penuh rasa iba, saya mendesak umat agar rela menolong mereka. Ternyata Allah menyentuh hati umat, sehingga semua dipenuhi rasa belaskasihan terhadap keluarga yang malang itu.
Pada sore harinya, di rumah seorang ibu yang baik dari kota itu, diadakan pertemuan untuk melihat apa yang dapat dilakukan untuk menolong mereka. Semua hadirin sanggup pergi untuk menghibur dan meolong. Bersama seorang Bapak saya juga pergi ke keluarga itu. Dalam perjalanan kami menjumpai beberapa ibu yang sedang menuju tempat yang sama. Setelah beberapa saat, sejumlah ibu malah sedang kembali dari rumah itu.
Setelah pengakuan dosa dan komuni, dibicarakan bagaimana cara terbaik untuk mencukupi kebutuhan mereka. Saya anjurkan agar menentukan iuran untuk masing-masing, supaya secara bergilir mereka dapat menyediakan makan bukan hanya untuk keluarga yang malang itu, tapi juga untuk orang-orang sakit lainnya. Dan itu tempat Persaudaraan Kasih pertama kali didirikan”.
Sama seperti peristiwa Gannes/Folleville, peristiwa Châtillon itu ditafsikan oleh Vinsensius sebagai hari berdirinya Serikat Putri Kasih. Dalam batin Vinsensius yang terdalam, peristiwa Châtillon bagi Putri Kasih mempunyai arti yang sama seperti peristiwa Gannes/Folleville bagi para Romo CM.
Kedua peristiwa itu terjadi pada tahun yang sama, 1617, tahun yang menentukan bagi Vinsensius pribadi maupun bagi kedua komunitas yang didirikannya. Inilah saat dimana Vinsensius menyediakan diri untuk menerima dan mengikuti rencana Allah dan pelahan-lahan meninggalkan keterpusatan pada rencananya pribadi untuk karir. Tujuan hidupnya makin jelas karena ia memperoleh visi baru tentang imamat, suatu visi rohani dan religius.
Tahun 1618 Vinsensius bertemu dengan Francis de Sales, seorang uskup yang berasal dari keluarga bangsawan, setelah Vinsensius menemukan panggilannya dan mulai mendaki jalan menuju kesucian. Tokoh inipun amat berpengaruh bagi Vinsensius. Dalam diri tokoh ini Vincent menemukan model yang amat inspiratif paling tidak dalam 2 hal. Pertama sifat sekular serikat yang ia dirikan, kedua keutamaan Vinsensius sendiri.
Dalam aturan umum yang ditulis oleh Vinsensius sendiri untuk CM dan PK tampak bahwa Vinsensius amat tegas mempertahakankan sifat sekular kedua serikat ini. Dalam aturan PK misalnya Vinsensius menulis “biara PK adalah rumah orang sakit”. Pandangan ini berarakar pada keyakinan de Sales yakni semua orang beriman dapat dan harus mengejar kesempurnaan rohani dalam status apapun. Itu artinya kesempatan ini ditawarkan kepada semua orang. Bukan hanya kepada kaum bangsawan seperti de Sales, atau kelompok elit lainnya. Mungkin Vinsensius demikian yakin tentang sekularitas serikat-serikat yang didirikannya itu, karena de Sales telah menyebarkan gagasan itu dalam Gereja Perancis zamannya. Atau paling tidak, Vinsensius tidak akan berhasil mendirikan kedua kongregsi ini kalau ide belum menjadi milik Gereja Perancis pada waktu itu.
Vinsensius menyerap keutamaan dari cara hidup de Sales. Ini penting karena Vinsensius mengalami perubahan yang mendalam. Vinsensius adalah orang yang tertutup dan seorang yang kasar dalam penampilan lahiriah. Ini semua mengalami perubahan mendalam. Vinsensius menyadari pentingnya kelembutan, sikap sopan dan hangat. Semuanya ini dihayati de Sales secara mengagumkan.
Bagaimana perkembangan tokoh kita ini selanjutnya? Telah saya katakan tadi bahwa Vinsensius beruntung karene dia mendapat visi baru tentang imamat, suatu visi rohani dan religius. Visi baru inilah yang mengubah hidupnya. Dia berkembang terus karena ia mencari dan mencari lagi cara meneladani Yesus, hingga ia menemukannya.

Kristologi Vinsensius

Vinsensius mempunyai gambaran yang khas tentang Yesus Kristus. Selain memahami dan menerima Yesus sebagai anak Allah yang datang untuk menyelamatkan manusia dia mempunyai gambaran khas yang amat diwarnai oleh pengalaman-pengalamannya sendiri terutama pengalaman di Folleville dan Châtillon. Kedua pengalaman ini membuka mata Vinsensius akan kebutuhan jasmani dan rohani yang diderita oleh orang miskin. Dua peristiwa ini turut mempengaruhi cara Vinsensius membaca Injil. Injil menampilkan figur Yesus yang mengatakan bahwa dia datang untuk membawa khabar gembira kepada orang miskin (cf. Luk 4:18) dan menandaskan apa saja yang diperbuat untuk salah seorang yang hina itu dilakukan untuk Yesus dan apa yang tidak dilakukan tidak dilakukan padanya, demikian kata Yesus (cf. Mat 25: 45).
Intuisi dasar tentang panggilannya telah ia peroleh dari pengalaman di Folleville dan Châtillon yakni proaktif, memberikan tanggapan pada kebutuhan jasmani dan rohani yang diderita oleh orang miskin. Dalam terang sikap Yesus terhadap orang miskin lahirlah karya-karya pelayannya yakni evanggelisasi dan pelayanan terhadap orang miskin. Vinsensius melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus; bekerja untuk sesama, mengajar hal-hal yang perlu diketahui untuk keselamatan dan merawat/mengunjungi orang yang sakit. Bagaimana Vinsensius menolong orang miskin? Seperti yang dilakukan oleh Yesus, secara rohani dan jasmani, pergi kemana-mana, memberi yang ia miliki dan mengajarkan cara mencari keselamatan. Selangkah lebih jauh lagi, Vinsensius juga memahami melayani yang miskin adalah melayani Kristus sendiri.
Disini kita melihat atau menemui Vinsensius yang meniru atau meneladani cara Yesus melayani orang miskin seturut pemahamannya sendiri; tentu tanpa mengabaikan peran penting dari para pembimbing rohaninya atau buku-buku yang ia baca. Vinsensius selalu mengolah informasi yang ia terima dengan caranya sendiri yang khas. Misalnya, ajaran Kristosentrisme de Bérulle berpengaruh besar terhadap Vinsensius. Tapi isi dari kristosentris mereka berbeda. De Bérulle lebih pada mistik, sementara Vincensius pada Yesus pembawa khabar gembira kepada semua orang, khususnya orang miskin.

Siapa Penyelenggaraan Ilahi?

Siapa Penyelenggara Ilahi (PI) ini dalam hidup Vinsensius? PI adalah nama Allah yang membawa gerakan keberadaan manusia kepada suatu arti. Gerakan keberadaan manusia ini ditandai oleh pengalaman kehilangan/memperoleh, kacau/tertata, tidak teratur/teratur mengijinkan perubahan gerakan keberadaan manusia pada kwalitas yang lebih baik.
Apa yang dilakukanNya? PI dalam seluruh gerakan membukakan arti baru kepada seseorang. Lalu apa yang terjadi dalam diri orang bersangkutan? Orang tersebut melihat dan memperoleh arti itu. Pengalaman memperoleh arti amat significant. Sebab dalam dan melalui pengalaman itulah Allah mengijinkan manusia mengalami kebaikanNya, perlindunganNya, kasihNya dalam pengalaman pahit yang terjadi dalam hidup seseorang.
Suatu arti itu diperoleh dari PI. Dialah yang membawa dan membuka arti itu. Hal itu terjadi dalam gerakan keberadaan manusia. Hal inilah yang terjadi dalam hidup Vinsensius. Gerakan keberadaanya ditandai oleh kehilangan cita-cita akan sebuah karir/memperoleh visi baru tentang hidupnya; kacau dalam pengalaman pahit/tertata kembali setelah bertemu dengan panggilan hidupnya.

Bagaimana hal itu terjadi?

PI, dengan caranya sendiri membawa gerakan keberadaan Vinsensius pada suatu arti yakni hidup sebagaimana Yesus memahami hidupnya sendiri. Hal itu diperolehnya dari dialetic pengalamannya sendiri; dalam gerakan keberadaannya yang ada dalam tegangan antara kehilangan/memperoleh, kacau/ditata kembali, tidak teratur/teratur; pengalaman ini mengijinkan perubahan hidup yang lebih berkualitas. Dalam perjalanan waktu yang disertai rahmat, dalam keheningan batin yang disertai dengan refleksi, kesediaan mendengar suara yang Ilahi dia memperoleh arti, perspectif baru dalam hidupnya. Vinsensius akhirnya membuka dirinya. Sikap ini mengantarnya pada sebuah relasi dengan yang Ilahi. Yang Ilahi berbicara, Vinsensius mendengar. Yang Ilahi memberi susuatu, Vinsensius menerimanya dst.
Dia mengatakan secara explisit dalam pengalamannya di Châtillon PI lah yang memanggilnya. Dari pengalaman di tempat ini, Vinsensius memperoleh intuisi tentang panggilannya. Dalam konteks yang demikian, kebetulankah dia menyebut nama ini? Atau dengan sadarkah hal itu dia lakukan? Menurut saya ia memakai nama itu dengan sadar, sebab ia tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Kehadiran para pembimbing rohaninya pun memperlihatkan perkembangan yang mengagumkan. Ada sebuah design. Kita telah melihat de Bérulle meletakkan dasar hidup rohaninya, Duval meyakinkannya untuk mendirikan CM, dan de Sales menjadi model internal (keutamaan) external (bentuk serikat yang ia dirikan). Jari siapa yang sedang membentuk dan mengatur semua ini? Vinsent sendiri mengakui bukan dirinya. Pencipta dan pengatur semuanya itu ialah Allah, PI.
Proses ini a.l. ditandai juga oleh pengalaman dikalahkan oleh Yang Lain (Allah) agar seseorang masuk pada suasana ditinggalkan, menyerah pada cinta, dan ditebus. Semuanya terjadi dalam hidup Vinsensius.
Begitulah relasi antara PI dan Vinsensius berlangsung. PI memberi, membukakan arti hidup Vinsensius kepada Vinsensius sendiri. Dalam seluruh proses itu, ia perlahan-lahan melihat dan menerima arti hidupnya: mengabdikan seluruh hidupnya untuk melanjutkan perutusan Yesus membawa khabar gembira kepada orang miskin.
Allah berkarya, seperti yang Ia perlihatkan dalam hidup Vinsensius, Ia bekerja melalui peristiwa, orang-orang tertentu, hingga manusia ciptaanNya melihat arti hidupnya. Setiap orang, termasuk kita, berada dalam gerakan hidup kita masing-masing. Disitu Dia hadir, menunggu, membimbing, membukakan arti hidup dst. Seluruh gerakan hidup kita menjadi bermakna dan membahagiakan bila kita mau terbuka, mau melihat, mau menerima dan bersedia merangkul bisikan yang Ilahi itu.

Pertanyaan reflektif

1. Adakah tonggak-tonggak peristiwa/pengalaman yang membangun diriku menjadikan aku seperti sekarang ini?
2. Adakah hal-hal yang pahit, namun kini kusadari sebagai hal yang sangat berguna bagi hidupku?

 

sumber: http://kevinindo.blogspot.com/2011/03/penyelengaraan-ilahi-dalam-hidup.html