Spiritualitas Vinsensian: Perjumpaan dengan Kristus dalam Orang Miskin

0
742
Seorang Suster Puteri Kasih mengjungi masyarakat Miskin di Cilincing, Jakarta. Foto oleh Magnus

Oleh Romo Luigi Mezzadri, CM, Provinsi Roma

Spiritualitas Vinsensian bukanlah sebuah doktrin melainkan sebuah perjumpaan. Suatu perjumpaan bukan dengan Kristus yang terlihat dalam sebuah penampakan, melainkan Kristus yang hidup dalam diri orang miskin. Kita akan mendalami tema ini dalam tiga tahap: Memahami, Merenungkan, dan Melayani
I. MEMAHAMI
Spiritualitas marak pada abad 17. Allah merupakan topik perbincangan yang umum. Bremond berbicara tentang “invasi mistisisme”. Madame Acarie masuk dalam ekstasi setiap kali dia bicara tentang Tuhan. Kesucian dipahami sebagai sebuah realitas mis-tik; para kudus adalah orang-orang yang mengalami penampakan dan membuat muk-jizat. Hal ini menjelaskan mengapa orang mencari kisah-kisah luar biasa dalam hidup para kudus. Akan tetapi pandangan ini melepaskan tanggung jawab orang-orang Kristen biasa karena mereka memandang kesucian sebagai sesuatu yang ada di luar jangkauan mereka.
Di antara Bapa-Bapa Gereja, St.Gregorius dari Nazianze mengembangkan teori bahwa ada 3 tipe hidup spiritual: kontemplatif (cocok untuk para rahib dan biarawati yang merupakan kelas tertinggi), aktif (cocok untuk awam dan dipandang kurang sempurna) dan campuran (cocok untuk aktivitas pastoral, yang menggabungkan kontemplasi dan aksi). Akibatnya kontemplasi dipandang mengantar orang ke kesucian dengan lebih mudah. Sementara bagi orang yang terjun dalam hidup sehari-hari, kesucian hanya mungkin dicapai dengan hidup asketis. Tetapi St.Fransiskus dari Sales menggambarkan kesucian sebagai dua bersaudara; yang pertama seorang biarawati yang hidup seperti awam dan yang lain seorang yang menikah tetapi hidup seperti biarawati. Menurutnya kesucian bisa dicapai setiap orang. Akan tetapi hal ini belum diterima secara luas. Kaum religius tetap mempertahankan pendapat bahwa merekalah yang “berada dalam situasi kesempurnaan”. Hal ini mempertajam kontras antara hidup aktif dan kontem-platif; antara Martha dan Maria.
Pengalaman yang mengerucut
Meskipun pengalaman spiritual St.Vinsensius sangat berbeda dengan St.Luisa, namun demikian jalur mereka menyatu. Jalur St.Vinsensius adalah “spiritualisasi”; dalam tahap pertama hidupnya (sd 1608/1610) dia memikirkan dirinya sendiri; kemudian sebuah krisis membimbingnya untuk menemukan bahwa manusia membutuhkan Allah. Jalur St.Luisa adalah “humanisasi”; awalnya dia mencoba untuk melarikan diri dari dunia dengan masuk biara, selanjutnya setelah bertemu dengan St.Vinsensius, me-ninggalkan tanggung-jawab keluarga untuk menemukan bahwa Allah membutuhkan manusia. Vinsensius dalam peristiwa Foleville dan Chatillon (1617) dan Luisa dalam pengalaman terang Pentakosta (1623), menemukan panggilan mereka yakni (1) meng-abdikan diri pada Allah (2) untuk ”melayani sesama”, dengan menanggapi kelaparan akan Sabda dan Roti.
II. MERENUNGKAN (MEDITASI)
Spiritualitas Kasih
St. Vinsensius seringkali menggunakan gambaran hati. Allah adalah Allah dari hati (XI, 156) “kekasih hati kita” (XI, 102; 145-147). “Marilah memohon Allah untuk meng-anugerahi Serikat ini semangat ini, hati yang membuat kita pergi kemanapun, hati Putra Allah, hati Allah kita, hati Allah kita, hati Allah kita, yang menyebabkan kita pergi karena Dia pergi dan akan pergi jika Kebijaksanaan IlahiNya telah memper-timbangkan untuk bekerja bagi pertobatan bangsa-bangsa miskin” (Coste XI, 264)
Spiritualitas Vinsensius adalah spiritualitas kasih Putra Allah yang menjelma menjadi manusia dan hadir dalam setiap pribadi. Dia adalah, seperti ditulis oleh Giuseppe Toscani, seorang mistik yang tidak hanyut oleh imaginasi yang fantastis tentang Kristus, tetapi lebih memandang orang miskin dalam diri Kristus. Spiritualitas abad pertengahan cenderung mengikuti Plato; tidak menghargai tubuh dan meninggikan jiwa. Doa dipandang sebagai “mengangkat akal budi menuju Allah”. Spiritualitas St. Vinsensius cenderung mengikuti gerak Inkarnasi “mendekati pribadi yang paling kecil seperti Allah melakukannya dalam diri Kristus”. Dalam ”kenosis” kerendahan hati ini, St.Vinsensius menemukan Kristus dan orang miskin. Sementara dalam tradisi mistik orang membicarakan tentang “malam indera-indera dan malam jiwa” sebagai saat pe-ngosongan diri supaya bisa melihat wajah Allah, St.Vinsensius membiarkan dirinya dipaku pada Salib orang miskin, “beban dan deritanya”. Inilah alasan mengapa orang miskin menjadi sebagai Kristus, yakni “tuan dan majikannya”.
St. Luisa, sebaliknya berbicara tentang “cinta yang murni”, yakni cinta yang telah di-murnikan yang berasal dari residu cinta manusiawi. “Semakin sulit suatu tempat untuk melayani, entah karena kemiskinannya atau alasan lain, semakin kita harus bersandar pada pendampingan dari surga, saat kita berjuang bekerja bagi cinta Allah yang murni, yang saya harapkan dengan tulus menjadi intensi Anda” (Spiritual Writings, 610)

Di jantung Tritunggal
St.Vinsensius menempatkan seluruh spiritualitas ini dalam hidup Tri Tunggal. Dia mengungkapkan gagasan ini dalam kata kerja “menghormati”; suatu ungkapan yang mengandung arti: ikut serta, mengakui diri sebagai putera dan berbagi atas pandang-an Yesus terhadap Tiga Pribadi. St.Vinsensius merasa dikasihi sebagai putra oleh Allah Bapa dan diundang ke meja perjamuan Tri Tunggal. Seperti para mistikus agung dia merasa aliran cinta dari Tri Tunggal: Allah Bapa yang berinisiatif untuk mencintai, Putra yang yang menerima dan Roh Kudus yang mewujudkan komunio dan persatuan
Sementara itu St.Luisa merasa Roh Kudus tinggal dalam dirinya, seolah-olah Roh Ku-dus masuk ke dalam dirinya. “O Cahaya Abadi, ambillah kebutaanku! O Kesatuan yang Sempurna, ciptakanlah dalam diriku simplisitas! Buatlah hatiku rendah hati untuk menerima rahmatMu. Semoga daya mencintai yang telah Kautempatkan di hatiku tidak terhalangi oleh kelemahanku yang sesungguhnya menjadi suatu halangan untuk mencintai secara murni, yang harus kumiliki sebagai konsekuensi Roh Kudus yang tinggal dalam diriku”. (Spiritual Writings, 818)
Misi lahir dari Tri Tunggal; tidak muncul dari sebuah inisiatif seseorang. Misi dilahirkan dengan hidup dalam Tri Tunggal. Dan dari Tri Tunggal mengalirlah sebuah gaya misi. “Marilah kita mengalaskan diri kita dalam semangat ini, jika kita ingin memiliki dalam diri kita gambaran dari Tritunggal, jika kita berharap memiliki hubungan yang suci dengan Allah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Apa yang membentuk kesatuan dan kom-unio dari Tiga Pribadi? Apa yang membentuk cinta mereka, jika bukan keserupaan mereka yang sempurna? Dan jika tidak ada cinta di antara mereka, apa yang patut dicintai?” tanya Uskup Geneva (Fransiskus de Sales). Karena itu ada keseragaman dalam Tri Tunggal. Apa yang Bapa kehendaki, dikehendaki oleh Putra; apa yang di-lakukan oleh Roh Kudus dilakukan pula oleh Bapa dan Putra; semua bertindak sama; mereka memiliki satu daya dan tindakan yang sama. Inilah asal dari kesempurnaan dan model kita. (Coste XII, 271; cf. Spiritual Writings, 818)
Inkarnasi
Spiritualitas Vinsensian adalah Kristosentris (berpusat pada Kristus). St.Vinsensius tidak mengusahakan suatu devosi khusus, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kita (devosi kepada santo-santa, tempat, dan ide) tetapi dia langsung menuju inti dari segalanya yakni Kristus (“Engkau sendirilah Tuhan”). “Disengat oleh kasih terhadap ciptaanNya” (Coste XII, 265). Kristus meninggalkan tahta Bapa untuk menunjukkan kelembutan hati Allah: “Kasih yang lembut itulah yang menyebabkan Kristus turun dari surga; Dia yang mulia melihat manusia yang terhina; Dia tersentuh oleh ke-malangan mereka” (Coste XII, 271; Leonard, 589).
Vinsensius menunjukkan kepada kita bahwa dia sungguh menemukan Kristus. Vinsen-sius mendengar suara Kristus di dalam diri orang miskin yang menderita; dalam diri orang miskin yang lapar akan roti dan Sabda. Dengan melihat orang miskin dia me-nemukan Kristus. Dia memandang Kristus dalam diri ”sesama”.
Bagi Santo Kasih ini, Inkarnasi adalah awal mula dari suatu relasi yang baru antara Kristus dan manusia. Inkarnasi adalah akar dari suatu dorongan hidup yang baru: “Mari kita memandang Putra Allah. Sungguh suatu hati yang penuh cinta! Nyala api cinta!… Apakah ada cinta yang menyerupai cintaNya? Siapa mampu mengasihi dengan kasih yang luar biasa? Tak seorangpun, kecuali Allah, yang begitu digerakkan oleh kasih ke-pada ciptaanNya, sehingga dia meninggalkan tahtaNya untuk datang dalam kelemah-an. Mengapa? Untuk menyatakan melalui Sabda dan teladanNya kepada kita bagai-mana saling mengasihi itu. Inilah kasih yang menyalibkan Dia dan menuntaskan karya penebusan kita. Oh, bila kita hanya memiliki sedikit kasih seperti ini, akankah kita diam dengan tangan terlipat? Akankah kita membiarkan orang-orang celaka, orang-orang yang mungkin kita dampingi? Tidak, kasih tidak bisa diam, kasih mendorong kita untuk menyelamatkan dan menghibur sesama” (XII, 264s; Leonard, 584f)
St.Vinsensius tidak mau kehilangan waktu dalam mencari banyak jalan. Dia menemu-kan Kristus, dia memandang orang miskin dan dia berjuang untuk “membangun Ke-rajaan Allah”. Ungkapan “orang-orang akan mati karena kelaparan dan dalam keadaan celaka” bukanlah sebuah trik untuk mendapatkan perhatian dari Tahta Suci, tetapi merupakan jeritan penderitaan yang mendesak untuk ditanggapi; sebuah luka dari jiwa. Inkarnasi bagi Vinsensius bukanlah sebuah misteri untuk dimeditasikan tetapi sumber dari tindakan nyata. Menurut Bremond: “Bukan cinta kepada sesama yang membimbingnya pada kesucian, kesucianlah yang membuatnya sungguh berbelaskasih secara efektif; bukan orang miskin yang membawanya pada Tuhan, tetapi sebaliknya Tuhanlah yang membawanya pada orang miskin”. Akan tetapi kita tidak menganggap Vinsensius melulu sebagai seorang aktivis dan pembagi bantuan, tetapi seorang pen-doa yang menemukan dunia dalam diri Allah, yang membuat doanya sebuah doa cinta
St. Luisa mengajak para suster untuk menjadikan kasih mereka kuat sedemikian rupa sehingga mereka dirasuki oleh kasih dan pelayanan pada orang miskin, seolah dua kasih tersebut merupakan satu kesatuan. “Jadilah teguh dan jika ragu-ragu kalian harus menjadi dirimu sendiri. Aku berkata hal yang sama pada seluruh suster yang terkasih. Aku mengharapkan mereka dipenuhi dengan kasih yang besar yang akan membenamkan mereka di dalam Allah dan begitu murah hati ketika melayani orang miskin, sehingga hati mereka tidak lagi punya tempat untuk begitu banyak pemikiran yang membahayakan ketekunan mereka. Jadilah berani para suster terkasih. Ber-usahalah hanya untuk menyenangkan Allah dengan mematuhi segala perintahNya dan nasehat-nasehat Injili, sebab kebaikan Tuhan berkenan memanggil kita untuk melaku-kannya. Hal ini hendaknya membimbing kita untuk mematuhi aturan kita dengan tepat, sekaligus dengan gembira dan tekun. Layanilah majikan-majikanmu dengan penuh kelembutan” (Spiritual Writings, 75)
Meninggalkan Tuhan untuk Tuhan
Kekuatan prinsip inkarnasi adalah mengundang para misionaris dan para suster untuk “meninggalkan Tuhan untuk Tuhan”. Karena orang miskin itu milik Yesus Kristus, me-reka adalah Yesus Kristus dan dengan meninggalkan Yesus Kristus dalam doa, mereka akan menemukanNya dalam anggota-anggotaNya. Umat manusia adalah wajah Allah dan Allah adalah wajah umat manusia. Inkarnasi adalah sumber dari antropologi Vin-sensius. Calvet menulis “Vinsensius adalah salah seorang di antara kita yang sangat mencintai manusia. Dia merasakan persaudaraan dengan sepenuh hatinya. Dia per-caya bukan dengan kata, perumpamaan, atau refleksi filosofis, tetapi secara konkret bahwa pengemis, setan jalanan yang miskin, adalah saudara atau saudarinya. Pe-rasaan dalam tingkat seperti ini sangatlah jarang. Setiap hari dia melayani dua orang miskin di meja makannya dan melayani mereka dengan penuh hormat. Santo-santa lain melayani orang miskin untuk menyelaraskan diri dengan semangat Injil; tapi Vin-sensius melayani mereka dengan rela dan senang hati. Saat dia menjadi pimpinan St.Lazare, dia menjumpai beberapa orang tidak waras yang ditinggalkan oleh setiap orang; ibarat manusia sampah. Vinsensius menyayangi dan memperlakukan mereka dengan penuh kelembutan. Suatu saat ketika dia harus meninggalkan St.Lazare, dia ditanya apa yang paling dia beratkan, dan Vinsensius menyimpulkan bahwa dia akan patah hati saat meninggalkan orang-orang miskin kurang waras itu. Jika dia memilih motto “mewartakan Injil kepada orang miskin” itu, karena dia yakin bahwa dia melanjutkan misi Yesus yang turun ke dunia, melepaskan segala keistimewaan dan merangkul kemiskinan untuk menyelamatkan manusia. Karena itu karakter Injili dari spiritualitas Vinsensius adalah berdasar pada Trinitas dan Inkarnasi
Frederick Ozanam memahami hal ini dengan sangat baik, mungkin dia adalah penafsir St.Vinsensius yang paling tepat, saat menulis tentang orang miskin kepada Louis Janmot: “Kita harus menelungkup di depan kaki orang miskin dan berkata ‘Engkaulah Tuhanku’. Engkau adalah tuan dan kami hambamu; engkau adalah gambar Allah yang kudus yang tidak kami lihat, dan kami tidak mampu mencintai Allah selain dengan mencintaimu”

III. MELAYANI
Berjumpa dengan kebenaran seperti ini, kita tidak bisa membatasi diri hanya pada pertimbangan-pertimbangan rasional. Misteri bukanlah sesuatu yang harus diukur dan dipahami, melainkan suatu pintu terbuka yang mengundang kita.
Dalam tahun perayaan ini, kita harus “masuk” dalam kasih Kristus. Kita, yang men-cintai Kristus, dibentuk olehNya dan bersatu denganNya dan oleh karenanya kita ada dalam kondisi mengasihi seperti yang telah dilakukanNya, Dia yang adalah pewarta kabar gembira kepada orang miskin (Luk 4:18-19). “Allah mengasihi orang miskin; konsekuensinya, Dia mengasihi orang yang mengasihi orang miskin; karena, ketika kita sungguh mengasihi seseorang, kita mengasihi juga teman-teman dan pelayan-pelayan-nya … dengan cara ini, kita memiliki alasan untuk berharap bahwa dengan mengasihi orang miskin, Allah akan mengasihi kita. Oleh karena itu marilah … membaktikan diri kita dengan kasih yang terbaharui untuk melayani orang miskin dan mencari yang paling miskin dan ditelantarkan; marilah kita mengakui di hadapan Allah bahwa mere-ka lah tuan dan majikan kita dan kita yang tak pantas memberikan sedikit pelayanan kepada mereka”. (Coste, XI, 392f). Cinta seperti ini memiliki dua gerak: ke atas, tertuju kepada Trinitas yang kita kagumi dan kita sembah, berusaha menyenangkan Allah; ke bawah, bertujuan untuk mengembangkan orang miskin melalui kasih yang murah hati. Sikap ini ibarat tatapan Kristus dari salib: sebuah tatapan kasih bagi orang yang membutuhkan dan sekaligus dari Allah yang membutuhkan untuk dikasihi.
St.Luisa berkata bahwa “kita yang dibebaskan dari semua ikatan harus mengikuti Yesus Kristus”. (Spiritual Writings, 689). Dari situlah mengalir doa yang bebas dan Kristosentris, yang mengarah langsung pada Kristus, diresapi Injil, tanpa mengarah pada banyak devosi; sebuah doa yang “bersentuhan dengan penderitaan” dalam arti bahwa ketika kita berdoa kita tidak dapat mengabaikan kecemasan dan penderitaan umat manusia; suatu doa “Injili”, yang kaya akan ungkapan iman seperti ada dalam Injil: “Tuhan semoga aku dapat melihat, Tuhan buatlah aku berjalan, Tuhan, katakanlah sepatah kata saja dan putra-putriMu akan sembuh, Tuhan Anak Daud, kasihanilah kami … ”

Konferensi-konferensi
Salah satu tradisi kita yang paling indah adalah berbagi buah-buah doa (repetisi doa) yakni berkumpul bersama untuk berbagi pemikiran, perasaan, gagasan. Berbicara bersama tentang Allah.
Marilah kita membaca beberapa kutipan berikut dan merenungkannya bersama:
1. “Semoga Allah yang baik berkenan memberi kepada kami semangat yang menjiwai (para misionaris yang dipuji St. Vinsensius), hati yang lapang, luas, dan lebar! Jiwaku memuliakan Tuhan! Jiwa kita harus meluhurkan dan menyerukan Allah dan semoga Allah menguatkan hati kita untuk melakukannya. Semoga melalui Dia kita mengerti: benar-benar sadar betapa agung, baik dan betapa berkuasa Allah itu; sejauh mana kita wajib melayani dan meluhurkanNya melalui semua cara yang mungkin; suatu kehendak yang kuat untuk menggunakan setiap kemungkinan guna memuliakan Allah. Jika kita tidak mampu melakukan sesuatu dengan kekuatan kita sendiri, kita mampu melakukannya bersama Allah. Ya, Misi dapat melakukan apa-pun, sebab kita memiliki benih-benih kemahakuasaan Yesus Kristus. Itulah sebab-nya tidak seorangpun dapat memaafkan dirinya sendiri, karena ia tak berdaya; kita akan selalu memiliki kekuatan yang lebih besar dari pada yang diperlukan ketika kebutuhan itu muncul” (Coste, XI, 192f)

Refleksi
a. Apakah panggilan kita merupakan sebuah perjumpaan/pertemuan yang berdasar pada doa batin atau melulu karena menjadi anggota dalam sebuah kelompok?
b. Apakah kita yakin bahwa keluarga Vinsensian “mampu melakukan semuanya sebab kita memiliki benih untuk melakukan segala sesuatu dalam Yesus Kristus”?
c. Apakah Anda memiliki pengalaman seperti itu yang bisa dibagikan?

2. “Saya tidak boleh menilai petani miskin dari penampilan atau kemampuan pe-nalaran mereka, lebih-lebih, kerap kali betapa kasar dan vulgar mereka itu, karena mereka sama sekali tidak mengungkapkan pemikiran orang rasional. Tetapi balik-lah medali itu dan engkau akan melihat dalam terang iman, bahwa Putra Allah, yang mau menjadi miskin, hadir dalam hidup kita melalui kaum miskin ini. Dia sama sekali tidak memiliki wajah manusiawi ketika Ia menderita sengsara dan dianggap gila oleh bangsa asing dan batu sandungan oleh bangsa Yahudi. Dalam keadaan seperti itu Dia menggambarkan diriNya sendiri sebagai pewarta Kabar Gembira kepada orang miskin: Aku diutus untuk mewartakan kabar gembira ke-pada orang miskin. Oh Tuhan! Betapa indah memandang orang miskin, bila kami memandang mereka dalam Allah dan menghargai mereka seperti Yesus Kristus menghargai mereka! Akan tetapi bila kita memandang mereka secara lahiriah dan dalam terang roh duniawi, mereka terlihat pantas dihina”. (Coste, XI, 26)

Refleksi

a. Apakah orang miskin hadir dalam doa kita?
b. Apakah kita menghadirkan wajah, situasi dan kebutuhan mereka?

3. “Ya, para romo, kita harus menjadi segalanya bagi Allah dan melayani sesama; kita harus memberikan diri sendiri kepada Allah untuk hal tadi, melepaskan diri kita untuk hal itu, memberikan hidup untuk hal tadi, menelanjangi diri – bisa di-katakan demkian – agar kita dapat mengenakan Dia. Setidaknya, kita harus sedemikian siap sedia, jika kita belum menjadi demikian – kita hendaknya siap dan mau datang dan pergi kemanapun Allah menghendaki, apakah ke India atau tem-pat manapun, untuk membaktikan diri secara suka rela guna melayani sesama kita dan meluaskan kerajaan Yesus Kristus dalam jiwa-jiwa; dan saya sendiri, yang tua dan lemah ini, bagaimanapun harus memiliki disposisi ini, bahkan untuk pergi ke India guna merebut jiwa-jiwa bagi Allah di sana, meskipun saya harus mati dalam perjalanan atau di kapal”. (Coste, XI, 357)

Diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh romo Marcello Manintim CM,
Provinsi Filipina

 

sumber: http://kevinindo.blogspot.com/2011/03/spiritualitas-vinsensian-perjumpaan.html