{"id":283,"date":"2012-02-06T08:45:13","date_gmt":"2012-02-06T01:45:13","guid":{"rendered":"http:\/\/www.plrblogs.com\/wartremoval\/uncategorized\/warts-what-are-they"},"modified":"2024-05-25T19:39:00","modified_gmt":"2024-05-25T12:39:00","slug":"kisah-dari-tanah-misi-tofoi-papua-barat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=283","title":{"rendered":"Kisah dari Tanah Misi Tofoi (Papua Barat)"},"content":{"rendered":"<p>Hari ini, 27 Juli 2012 aku memulai journey ketiga stasi jalur darat, berjarak 120-an km. Setiap minggu ke-5 kami mengadakan kunjungan stasi-stasi jalur darat, karena sulitnya transportasi. Kalo mau ngojek dari pastoran perlu Rp 1,5 juta-an untuk sekali jalan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2012\/02\/kisah1.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-363 alignleft lazyload\" style=\"--smush-placeholder-width: 200px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 200\/134;margin: 5px 10px;\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2012\/02\/kisah1.jpg\" alt=\"kisah\" width=\"200\" height=\"134\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" \/><\/a><br \/>\nBerhari-hari aku berdoa: \u201cTuhan, semoga minggu ini cuaca bagus, tidak hujan, supaya jalan kering dan aku bisa melakukan journey dengan \u2018Vega ZR berkat\u2019 (hehehe\u2026 soalnya motor sumbangan) dan perjalanan lancar.\u201d<br \/>\nDitemani Om Donatus aku mulai perjalananku. Lancar\u2026 walau mendung menggelayut, tapi kira-kira sampai kilometer 60-an si Vega masih bisa melaju. Namun apa mau dikata\u2026. tak lama kemudian hujan mulai turun. Jalan lumpur tanah merah mulai becek dan lengket. Si Vega mulai terseok-seok ke kiri dan ke kanan. Om Don mulai jalan kaki (daripada terpelanting berdua, hehehe\u2026). Akhirnya aku menyerah. Aku bilang: \u201cOm, motor kita tinggal di sini saja. Kita jalan kaki ke stasi Moniara (stasi terdekat dari 3 stasi yang akan kami kunjungi)\u201d. Si Vega kuparkir di pinggir jalan dengan bermahkota tutupan ranting-ranting. Aku dan Om Don mulai jalan kaki dengan menenteng tas kami. (Para pendahulu, seperti Rm Bijanta, Seve, Hatmoko, Gunawanm pasti pernah mengalami yang lebih berat).<br \/>\nAku jadi teringat ketika tugas di Jawa dulu: \u2018Sesulit-sulitnya di Jawa, semua masih mudah dan tersedia. Namun kadang aku masih mengeluh kurang ini dan kurang itu.\u2019 Lalu sambil berjalan aku berkata: \u201cSyukur, aku masih boleh mengalami jalan kaki\u201d dan aku bilang kepada Om Don: \u201cTuhan sedang iseng menguji kita: masih mau jalan terus, atau menyerah, hahaha\u2026.\u201d<br \/>\nKeringat bercucuran menemani perjalanan kami. Wah, ternyata Moniara masih jauh juga. Hampir 3 jam kami berjalan (ngos-ngosan juga, karena sudah lama tidak berjalan jauh). Capek, pegel kaki, campur aduk\u2026 namun akhirnya sampai juga\u2026 Tuhan menyambut kami melalui anak-anak yang langsung berkumpul di pastoran: nyanyi bareng, latihan berhitung, latihan menghafal huruf dan membaca.<br \/>\nTerima kasih untuk hari ini, Tuhan. Aku mau tidur dulu. Semoga pegel dan capekku terobati. (Martinus A. Paryanto CM)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hari ini, 27 Juli 2012 aku memulai journey ketiga stasi jalur darat, berjarak 120-an km. Setiap minggu ke-5 kami mengadakan kunjungan stasi-stasi jalur darat, karena sulitnya transportasi. Kalo mau ngojek dari pastoran perlu Rp 1,5 juta-an untuk sekali jalan. Berhari-hari aku berdoa: \u201cTuhan, semoga minggu ini cuaca bagus, tidak hujan, supaya jalan kering dan aku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":7245,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[116,117,354],"tags":[78,79,85,86,87,88,89],"class_list":{"0":"post-283","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-berita","8":"category-misi","9":"category-paroki","10":"tag-ads","11":"tag-adsense","12":"tag-advertising","13":"tag-content","14":"tag-google","15":"tag-pages","16":"tag-website"},"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2012\/02\/maxresdefault.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/283","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=283"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/283\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3744,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/283\/revisions\/3744"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7245"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=283"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=283"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=283"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}