{"id":3774,"date":"2016-01-22T14:45:05","date_gmt":"2016-01-22T07:45:05","guid":{"rendered":"http:\/\/cm-indonesia.org\/?p=3774"},"modified":"2024-05-26T16:35:58","modified_gmt":"2024-05-26T09:35:58","slug":"apa-spiritualitas-kongregasi-misi-cm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=3774","title":{"rendered":"Spiritualitas Kongregasi Misi"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1.jpg\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"373\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-1024x373.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-7126 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-1024x373.jpg 1024w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-300x109.jpg 300w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-768x280.jpg 768w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-1153x420.jpg 1153w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-696x253.jpg 696w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1-1068x389.jpg 1068w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality-1.jpg 1200w\" data-sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/373;\" \/><\/a><\/figure>\n\n\n<p>CM memiliki motto <strong>\u201c<i>Evangelizare Pauperibus Misit Me<\/i>\u201d (artinya: aku diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada orang-orang miskin)<\/strong>. Dengan mengenakan semangat Kristus Sang Pewarta Injil kepada orang miskin, para anggota CM berusaha meneladan Kristus yang bersabda, \u201cRoh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin\u201d (Luk 4: 18). \u00a0Untuk menjaga tugas perutusan ini, para anggota CM menghayati <a href=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/?page_id=7192\"><strong>Lima Keutamaan, yaitu: Kesederhanaan, Kerendahan Hati, Kelembutan Hati, Matiraga, dan Penyelamatan Jiwa-jiwa.<\/strong><\/a><\/p>\n<p>Secara umum, hidup spiritualitas para imam dan bruder CM (Vinsensian) disebut juga sebagai <strong>Spiritualitas Vinsensian<\/strong>, penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut.<\/p>\n<p><strong>Percaya pada Penyelenggaraan Ilahi<\/strong><br \/>St Vinsensius memiliki iman dan kepercayaan yang dalam akan pemeliharaan\/penyelenggaraan Tuhan baginya dan bagi semua orang, terutama orang miskin.<\/p>\n<p><strong>Berusaha untuk menjadi Kontemplatif dalam Tindakan<\/strong><br \/>St. Vinsensius dan St Louise de Marrilac membentuk cara hidup baru dari kehidupan religius &#8211; perpaduan yang efektif dan tidak tertutup antara yang ilahi dan manusiawi, yang supernatural dan praktis, yang kontemplatif dan aktif. Melalui perjumpaan mereka dengan Kristus yang lemah lembut dan penuh kasih sayang dalam doa, para imam\/bruder CM dan para Vinsensian lainnya siap untuk keluar dan membantu Kristus yang sama dalam melayani orang-orang miskin. Seperti yang dikatakan St. Vinsensius: <strong>\u201cBerilah aku seorang pendoa, maka mereka akan mampu melakukan apa pun.\u201d<\/strong><\/p>\n<p><strong>Jalani \u201cPilihan Preferensi bagi Masyarakat Miskin\u201d<\/strong><br \/>Kasih Kristiani yang harus kita praktikkan bukanlah memberikan kepada orang miskin &#8216;sisa-sisa&#8217;, waktu luang kita, uang tambahan kita, pakaian lama kita, dll. Bagi kita, seorang Vinsensian sejati, amal kasih harus berarti memberikan yang terbaik dan kadang-kadang segalanya. Kehidupan kita harus mencerminkan kehidupan Yesus Kristus yang telah memanggil kita pada panggilan kasih yang agung ini. Rasa hormat kita terhadap martabat orang-orang miskin harus menuntun kita untuk memperlakukan mereka seperti tamu di meja keluarga kita dan bukan sebagai pengemis di depan pintu rumah kita, yang menunggu remah-remah.<\/p>\n<p><strong>Mempraktikkan Refleksi Apostolik<\/strong><br \/>Setelah bertemu dengan orang miskin, atau mengikuti pengalaman melayani orang miskin, kami bersama-sama merenungkan pengalaman tersebut dan implikasinya melalui doa dan pendalaman Sabda Allah. Dengan cara ini kita mulai belajar bagaimana mengatasi kemiskinan batin kita sendiri. <strong>Spiritualitas Vinsensian merupakan salah satu kunci atau jalan kontemplasi dimana kita ini terbantu untuk mengungkap makna sebenarnya dari Kitab Suci.<\/strong> Proses transformasi ini mempersiapkan kita untuk kembali memperbarui pelayanan kepada Tuhan kita, kaum miskin.<\/p>\n<p><strong>Percaya bahwa Orang Miskin adalah Tuan Kita<\/strong><br \/>Kami percaya bahwa orang-orang miskin mempunyai hak atas masa kini. Sama seperti seorang bawahan yang menghormati seseorang yang memiliki otoritas lebih tinggi, kita menunjukkan rasa hormat yang mendalam, bahkan pengabdian, kepada mereka yang miskin. Cara bicara kita harus sederhana dan mudah dimengerti mereka. Kita harus menyangkal hal-hal dan kesenangan kita sendiri agar kita bisa bersolidaritas dengan orang miskin; agar mereka tidak merasa malu dan takut dengan kehadiran kita. Kami mendatangi mereka; bukan mereka yang selalu mendatangi kita. Kami berusaha selalu mudah didekati dan bersikap ramah saat menyapa mereka. Kami menunjukkan kesabaran ketika ada orang yang menuntut atau bahkan marah. Kami mendengarkan mereka dengan penuh perhatian, dan terlebih dahulu mempertimbangkan kebutuhan mereka. Mereka harus mempunyai hak untuk menentukan bagaimana mereka dapat mengarahkan kehidupan mereka.<\/p>\n<p><strong>Melibatkan dan Merangkul Kaum Awam\u00a0<\/strong><br \/>Sejak awal, peran kaum awam sangatlah penting bagi misi kami. Kaum awam mengungkapkan kebutuhan orang miskin kepada St. Vinsensius di <em>Folleville<\/em> dan <em>Chatillon-les-Dombes<\/em>. Dapat dikatakan bahwa kaum awam membawa St. Vinsensius kepada orang-orang miskin. Saat ini Keluarga Vinsensian masih memiliki karakter sekuler. Beberapa kelompok awam Vinsensian (<a href=\"https:\/\/www.instagram.com\/keluarga.vinsensian\/\"><strong>lokal<\/strong><\/a> dan <strong><a href=\"https:\/\/famvin.org\/\">internasional<\/a><\/strong>) yang terlibat dalam karya Allah ini adalah: SSVP, AMM, JMV, AIC, dan MISEVI.<\/p>\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CM memiliki motto \u201cEvangelizare Pauperibus Misit Me\u201d (artinya: aku diutus untuk mewartakan kabar gembira kepada orang-orang miskin). Dengan mengenakan semangat Kristus Sang Pewarta Injil kepada orang miskin, para anggota CM berusaha meneladan Kristus yang bersabda, \u201cRoh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin\u201d (Luk 4: 18). [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":7125,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":{"0":"post-3774","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-karya-cm"},"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/vincentian-spirituality.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3774","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3774"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3774\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7200,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3774\/revisions\/7200"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7125"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3774"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3774"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3774"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}