{"id":4071,"date":"2020-11-12T20:49:56","date_gmt":"2020-11-12T13:49:56","guid":{"rendered":"http:\/\/cm-indonesia.org\/?p=4071"},"modified":"2025-08-19T11:16:41","modified_gmt":"2025-08-19T04:16:41","slug":"sanggar-sahabat-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=4071","title":{"rendered":"Sanggar Sahabat Anak"},"content":{"rendered":"\n<p> Fr. Agustinus Albert CM <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"450\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-1024x450.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4087 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-1024x450.jpg 1024w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-300x132.jpg 300w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-768x337.jpg 768w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-696x306.jpg 696w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-1068x469.jpg 1068w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA-956x420.jpg 956w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/11\/SSA.jpg 1348w\" data-sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/450;\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Dewasa ini pendidikan merupakan kebutuhan mutlak manusia\nyang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan, mustahil bagi kita untuk\nhidup berkembang sejalan dengan harapan atau cita-cita untuk maju. Pendidikan menjadi\nsuatu perhatian yang begitu besar terutama di Indonesia. Masyarakat Indonesia\nberhak mendapatkan pendidikan yang baik karena pendidikan adalah milik semua\norang. Perkembangan pendidikan di Indonesia dari tahun ke tahun tentu mengalami\nperubahan ke arah yang lebih baik. Perkembangan\ndalam dunia pendidikan memberikan respon terhadap kebutuhan dunia. Upaya ini\nberusaha untuk membuat sistem pendidikan yang mampu mengembangkan sumber daya\nmanusia. Perlu diingat bahwa pendidikan tidak harus dijalankan secara\nformal saja melainkan dapat dilakukan secara informal dan nonformal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kisah kasih yang unik tertanam di sebuah tempat yang\ndisebut dengan Sanggar Sahabat Anak atau yang akrab disebut dengan SSA. Sanggar\nini menjadi sebuah tempat belajar sekaligus bermain bagi anak-anak. Sanggar\nSahabat Anak adalah sebuah benih dari Unit Pendampingan Anak (UPA) yang di\nbawahi oleh Vincentian Center Indonesia (VCI) pada tahun 2006-2007. Karena\nterjadinya konflik internal dalam VCI, maka Rm Robertus Wijanarko CM membekukan\nprogram tersebut. Pada saat itu, unit rumah Jl. Raya Langsep 58 (saat ini Seminari Tinggi CM\nunit S2) menjadi tempat bernaung bagi UPA. Unit Pendampingan Anak memiliki\nanggota yang melibatkan beberapa orang dan pihak seperti: Opung, Leo, Maman,\nBram, Dwi, Sigit, Ratih dan dibantu para relawan yaitu murid-murid dari Dempo. <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote has-text-align-center is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Konflik bukan alasan untuk mengendorkan semangat berjuang dan terus berkembang<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<p>Terjadinya konflik internal dalam VCI tidak membuat semangat dari seluruh anggotanya kendor. Mereka berusaha untuk terus mencari tempat baru dan melakukan kegiatan. Doa dari berbagai pihak akhirnya membuahkan hasil. Mereka dapat membeli tanah yang berada di sekitar Bandulan dan rencananya akan didirikan sebuah sanggar. Usaha pendirian sanggar ini, didampingi oleh Rm Markus Rudy Hermawan CM dan dipelopori oleh Bu Agus. Pembanggunan Sanggar ini tentu memerlukan dana yang tidak sedikit. Usaha yang dilakukan pada saat itu ialah membuat pentas seni yang dibawakan oleh anak-anak yang memainkan alat-alat perkursi serta membuat proposal kepada berbagai pihak. Rm FX. Kurniawan Dwi Madyo Utomo CM menjadi salah satu pelopor dalam penggalangan dana pembelian tanah. Kegiatan pembangunan sanggar inimendapatkan dukungan dari banyak pihak yang sangat berantusias. Dalam pelaksanaan kegiatan ini, biaya menjadi masalah utama, maka Kongregasi Misi meminjamkan dana agar proses pembelian tanah dapat terselesaikan dengan segera. Dalam kurun waktu enam bulan lahan yang akan digunakan untuk pendirian sanggar dapat dilunasi dan dibangunlah sanggar tersebut. Pada tahun 2007 diresmikanlah sanggar yang diberi nama Sanggar Sahabat Anak. <\/p>\n\n\n\n<p>Sejarah berdirinya Sanggar Sahabat Anak, tidak terlepas dari keterlibatan Kongregasi Misi (CM). Hal itu karena CM telah memberikan perhatian yang begitu besar akan kegiatan ini, mulai dari sarana-prasarana, penggalangan dana, dan bimbingan dari para Romo CM sendiri. Hal ini tentu saja terjadi berkat kerjasama dari berbagai pihak. Perjalanan kegiatan Sanggar Sahabat Anak, tidaklah berjalan dengan mulus. Banyak masalah-masalah kecil yang membuat Sanggar ini sempat putus hubungan dengan CM. Selama dua tahun kegiatan ini terlepas atau tidak berkomunikasi dengan CM. Masalah ini terjadi karena adanya pergantian pembimbing dan juga didukung oleh masalah satu dan lain hal yang terjadi. Hingga pada akhirnya Br. Filemon Sunarto CM yang menjadi pendamping Sangar Sahabat Anak berusaha menjalin kembali hubungan tersebut sampai pada hari ini. Sanggar Sahabat Anak yang berada di Bandulan tersebut menjadi wadah bagi anak-anak yang berada di kompleks sekitar. <\/p>\n\n\n\n<p>Kegiatan di Sanggar Sahabat Anak dalam kurun waktu dua\ntahun ini didampingi oleh para frater CM secara intens. Mereka berkujung ke\nsana setiap hari Rabu sore dan hari Minggu. Kegiatan yang dilakuan tentu bukan\nhanya belajar secara formal seperti sekolah-sekolah pada umumnya, melainkan\ndilakukan secara informal dengan memanfaatkan fasilitas yang tersedia dan tanpa\ndipungut diaya. Anak-anak yang berada di sana juga merasa antusias dalam\nmengikuti kegiatan ini. Kebanyakan dari anak-anak yang mengikuti kegiatan ini\nberasal dari keluarga kelas menengah ke bawah. Mereka bermain dan belajar dan\ningin tahu banyak hal. Mereka memiliki semangat yang tinggi untuk menggapai\nimpian dan cita-cita.&nbsp; <\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\"><p>Kesabaran adalah Kunci<\/p><\/blockquote>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"alignleft is-resized\"><img decoding=\"async\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/IMG20191201112219-768x1024.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4075 lazyload\" width=\"232\" height=\"310\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 232px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 232\/310;\" \/><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Ketika saya mendampingi anak-anak yang berada di Sanggar Sahabat Anak, Banyak pengalaman berharga yang saya dapatkan. Pertama-tama secara pribadi saya dilatih untuk menjadi pribadi yang sabar. Ternyata mendampingi anak-anak itu bukanlah suatu hal yang mudah. Saya berhadapan dengan anak-anak yang memiliki latar belakang pendidikan yang minim. Kesabaran adalah kunci utama dalam menghadapi semuanya itu. Selain sabar, saya juga melihat bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan karena pendidikan adalah milik semua orang. Dunia pendidikan dewasa ini terhalang oleh biaya yang cukup tinggi sehingga banyak orang yang tidak dapat memperoleh pendidikan yang baik. Memang metode yang diterapkan dalam pelayanan di SSA bukanlah metode pendidikan secara formal melainkan secara informal. Tetapi dalam konteks lingkungan sekitar dan jaman sekarang pendidikan secara informal cukup membantu bagi mereka yang tidak mampu memenuhi tuntutan biaya yang cukup mahal. <\/p>\n\n\n\n<p>Pendidikan dapat mengantarkan seseorang pertama-tama tahu apa yang baik yang harus dilakukan. Selama dua kali dalam seminggu perjumpaan saya dengan anak-anak di sana tentu sangat berarti bagi saya dan juga bagi mereka. Saya merasa bahwa anak-anak perlu ditanamkan suatu pendidikan karakter yang baik sejak dini. Keterbatasan pendidikan dalam keluarga yang didapatkan oleh anak-anak di sana tentu berdampak pada sikap dan karakter yang mereka lakukan. Pendidikan bukanlah semata-mata soal nilai yang dapat diukur dengan angka, tetapi juga moral yang baik untuk membentuk sikap, watak dan kepribadian yang diperlukan untuk membina hati nurani. <\/p>\n\n\n\n<p>Ingin tahu lebih lanjut tentang sanggar ini? Bisa langsung cek di alamat di bawah ini ya. <\/p>\n\n\n\n<p>http:\/\/ssamalang98.blogspot.com\/#<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Fr. Agustinus Albert CM Dewasa ini pendidikan merupakan kebutuhan mutlak manusia yang harus dipenuhi sepanjang hayat. Tanpa pendidikan, mustahil bagi kita untuk hidup berkembang sejalan dengan harapan atau cita-cita untuk maju. Pendidikan menjadi suatu perhatian yang begitu besar terutama di Indonesia. Masyarakat Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang baik karena pendidikan adalah milik semua orang. Perkembangan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":28,"featured_media":4072,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[1,356],"tags":[],"class_list":{"0":"post-4071","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-karya-cm","8":"category-sosial"},"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2020\/06\/Screenshot_2020-06-18-13-33-16-14.png","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/28"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4071"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4097,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4071\/revisions\/4097"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4072"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}