{"id":538,"date":"2014-05-20T11:06:59","date_gmt":"2014-05-20T04:06:59","guid":{"rendered":"http:\/\/cm-indonesia.org\/?p=538"},"modified":"2021-03-31T12:01:28","modified_gmt":"2021-03-31T05:01:28","slug":"orbituari-rm-petrus-kukuh-dono-budomo-cm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=538","title":{"rendered":"OBITUARI: Rm. Petrus Kukuh Dono Budomo CM"},"content":{"rendered":"<p>Rm. Petrus Kukuh Dono Budono CM lahir di Madiun, 26 Juli 1962 dari pasangan Bpk. Wage Soediro dan Ibu Watiningsih. Dia adalah anak ke-2 (dua) dari 7 (tujuh) orang bersaudara. Ketika masih remaja Rm. Kukuh mulai aktif sebagai misdinar sekalipun belum dibaptis. Berkat persahabatan dengan teman-teman misdinarnya dan dukungan kedua orangtuanya, Rm. Kukuh dibaptis saat dia menjalani pendidikan SMP. <a href=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh.jpg\"><img decoding=\"async\" class=\"alignright size-medium wp-image-539 lazyload\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh-277x300.jpg\" alt=\"kukuh\" width=\"277\" height=\"300\" data-srcset=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh-277x300.jpg 277w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh-768x831.jpg 768w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh-696x753.jpg 696w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh-388x420.jpg 388w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2014\/05\/kukuh.jpg 809w\" data-sizes=\"(max-width: 277px) 100vw, 277px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 277px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 277\/300;\" \/><\/a>Dalam kelompok misdinar dan dalam bimbingan Rm. Amici CM, dia mulai mengenal pelayanan.<\/p>\n<p>Semangat pelayanan dalam diri Rm. Kukuh terus bertumbuh. Saat menjalani kuliah di UNS &#8211; Surakarta, dia melihat banyak anak muda\u00a0 Katolik yang menghadapi tantangan iman. Dia merasa terpanggil untuk menyelamatkan iman teman-temannya dengan menjadi anggota kelompok pendalaman iman. Meskipun pada awalnya ia hanya dilibatkan dalam hal-hal sederhana seperti mengedarkan undangan, menjemput dan mengantarkan pulang anggota-anggota putri dari\u00a0 kelompok pendalaman iman tersebut, namun semua itu dia lakukan dengan sepenuh hati. Keterlibatannya dalam kelompok pendalaman iman ini membawanya sampai kepada sebuah penemuan dan keprihatinan: Banyak kaum muda Katolik mengalami tantangan iman karena sedikitnya tenaga katekis dan pastor. Pengalaman iman pribadi itu ternyata tidak berhenti di situ saja. Ia selalu mendengar pertanyaan dari dalam hatinya: \u201c<em>Bagaimana dengan kamu? Maukah kamu menjadi katekis atau pastor?<\/em><em>\u201d <\/em><\/p>\n<p>Saat pertanyaan tersebut terus mengusiknya, ia mencoba mematikan pertanyaan tersebut dengan\u00a0 meyakinkan dirinya bahwa\u00a0 menjadi guru kimia jauh lebih terhormat daripada menjadi guru agama. Ia juga pernah berusaha untuk mematikan pertanyaan tersebut dengan berjanji bahwa setelah lulus dan mengajar\u00a0 di SMA, dia akan membina iman anak-anak Katolik.\u00a0\u00a0 Janji tersebut benar-benar ia lakukan saat ia mengajar di SMAK St. Louis &#8211; Cepu, namun ternyata semua itu tak dapat menghentikan kegelisahan hatinya.\u00a0 Itulah yang akhirnya membuatnya berpikir untuk menjadi pastor.<\/p>\n<p>Langkah pertama menapaki hidup panggilan dirasakannya tidak mudah. Dalam\u00a0 sebuah tulisannya ia menggungkapkan: <em>\u201d<\/em><em>Meninggalkan pekerjaan dan anak-anak didik serta anak-anak binaan iman ternyata tidak mudah. Rekan-rekan guru, murid-murid maupun keluarga mencoba meminta\u00a0 saya untuk tetap bekerja sebagai guru dan membina iman anak-anak Katolik dan mengurungkan niat untuk masuk seminari. Saya hanya bisa menjawab mereka: Siapa yang dapat mematahkan keinginan Tuhan, bila Ia telah menghendaki<\/em><em>;<\/em><em> bahkan diri saya sendiri tak mampu untuk menahan kehendak-Nya<\/em><em>\u201d<\/em><\/p>\n<p>Rm. Kukuh memutuskan untuk menjadi calon imam Kongregasi Misi (CM). Sekalipun banyak kesulitan dalam masa pembinaan sebagai calon imam, dia tetap belajar setia dan mengerjakan hal-hal kecil dengan sekuat tenaga. Untuk memperbesar perjuangannya, dia selalu mengutip kata-kata pemazmur: <em>\u201c&#8230; Yang menabur dengan bercucuran air mata, akan menuai dengan sorak-sorai\u201d<\/em> (Mzm 126:6). Kutipan ini menunjukkan bahwa dia adalah pribadi yang dekat dengan sabda Tuhan dan seorang pendoa. Akhirnya dia menerima tahbisan imamat pada usia 39 tahun, pada tgl 15 Agustus 2001 dengan motto imamat: <em>\u201cIni aku, utulah aku Tuhan\u201d.<\/em><\/p>\n<p>Sejak dalam masa pembinaan, Rm. Kukuh sangat berharap kelak menjadi seorang imam yang tinggal di tengah pemukiman orang miskin. Keinginan ini tidak lain merupakan kerinduan terdalamnya untuk menjadi seorang misionaris. Setelah ditahbiskan sebagai imam, dia menjadi misionaris di Kalimantan Barat. Dia melayani umat dan membina calon imam di daerah misi. Dia juga belajar setia menjadi sahabat yang baik bagi mereka yang mengalami kesulitan dalam hidup dan panggilannya.<\/p>\n<p>Semangat misioner ini selalu hidup dalam diri Rm. Kukuh. Ketika masih menjalani perutusan di sekolah SMAK St. Louis 2 dan melayani umat di Keuskupan Surabaya, Rm. Kukuh menyampaikan keinginannya kepada visitator dengan berkata: <em>\u201cMeskipun saya sudah tua, saya tetap ingin bermisi di PNG\u201d<\/em>. Meskipun tidak mudah baginya untuk belajar bahasa namun karena keinginannya yang besar untuk bermisi,\u00a0 Rm. Kukuh mau diutus belajar di Chicago, USA. Ketika mengetahui bahwa kondisi kesehatannya tidak memungkinkan dia segera berangkat menjadi misionaris di <em>PNG<\/em>, Rm. Kukuh menangis. Dia menjelaskan tangisannya itu kepada Rm. Jauhari CM: <em>\u201cSaya rindu\u00a0 untuk bermisi, namun mungkin tidak jadi pergi ke PNG karena kesehatan saya\u201d. <\/em>\u00a0Dia sungguh mencintai daerah misi.<\/p>\n<p>Sepulang dari Chicago, semangat menjadi misionaris tetap menjadi sikap batin Rm. Kukuh. Ketika Romo Visitator menanyakan kesehatan\u00a0 dan kesiapannya \u00a0untuk menanggapi pelayanan pastoral paroki di Keuskupan Manokwari \u2013 Sorong, Papua Barat selama 3 (tiga) bulan, dia mengatakan bahwa kesehatannya baik dan siap menanggapi kebutuhan tersebut. \u00a0Ketika Rm. Paulus Dwintato CM mempertanyakan keputusannya untuk pergi ke Manokwari dengan berkata: <em>\u201cKuh, mengapa nggak istirahat saja di Kepanjen?\u201d<\/em>, dia menjawab: <em>\u201cDi\u00a0 sana aku juga beristirahat sambil tetap bisa melayani di Paroki\u201d<\/em>. Dan juga ketika Rm. Agustinus Ubin CM mempertanyakan keputusannya untuk berangkat ke Manokwari dalam keadaan tidak sehat, dia berkata: <em>\u201cTuhan menghendakinya. Bahkan, jika mati di daerah misi, itu adalah kebahagiaan besar<\/em><em> bagiku<\/em><em>!\u201d<\/em><\/p>\n<p>Rm. Petrus Kukuh Dono Budomo CM mengakhiri perutusannya sebagai misionaris di dunia ini pada hari Jumat, 16 Mei 2014, Pkl. 10.50 WIT di Manokwari \u2013 Sorong, Papua Barat.<\/p>\n<p>Menyimak perjalanan hidup dan perutusan Rm. Kukuh Dono Budomo CM, kita menemukan bahwa dia adalah seorang guru. Dia mengajarkan <strong>\u201cKeterbatasan diri bukanlah alasan untuk tidak mencintai Allah dan bermisi.\u201d<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Riwayat Pendidikan:<\/strong><\/p>\n<p>1966-1968\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : TK Indriana III, Madiun<\/p>\n<p>1968-1974\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : SDK St. Yusuf, Madiun<\/p>\n<p>1874 \u2013 1977\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : SMPK St. Bernardus, Madiun<\/p>\n<p>1977-1981\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : SMAN 2, Madiun<\/p>\n<p>1983 &#8211; 1987\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : FKIP UNS,\u00a0 Surakarta<\/p>\n<p>1987 \u2013 1991\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Mengajar di SMAK St. Louis, Cepu \u2013 Jawa Tengah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Riwayat Panggilan<\/strong><\/p>\n<p>1991 \u2013 1992\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Postulat Stella Maris, Malang<\/p>\n<p>1992 &#8211; 2001\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Seminari Tinggi CM, Malang<\/p>\n<blockquote><p>15 Agustus 1993\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Mengucapkan <em>Bonum Propositum; <\/em><\/p>\n<p>1997 -1998\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :Tahun Pastoral di Paroki Tempunak, \u00a0\u00a0\u00a0Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat<\/p>\n<p>27 Nopember 1999\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Kaul kekal<\/p><\/blockquote>\n<p>1 Maret 2001\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tahbisan diakon<\/p>\n<p>15 Agustus 2001\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : menerima tahbisan imamat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Riwayat Perutusan<\/strong><\/p>\n<p>2001 \u2013 2004\u00a0\u00a0\u00a0 : Staf Pembina Seminari Menengah St. Yoh. Maria\u00a0 Vianney &#8211; Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2001 \u2013 2002\u00a0\u00a0\u00a0 : Pastor Rekan Paroki St. Perawan Maria Diangkat ke\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Surga, Nanga Pinoh,\u00a0 Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2002 \u2013 2007\u00a0\u00a0\u00a0 : Rektor Seminari Menengah St. Yoh. Maria\u00a0 Vianney &#8211; Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2007 &#8211; 2013\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Kepala Sekolah SMAK St. Louis 2, Surabaya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2007 &#8211; 2011\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :Pastor rekan Paroki Kelahiran St. Perawan Maria, Keuskupan Surabaya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2011 &#8211; 2013\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Pastor rekan Paroki Kristus Raja, Keuskupan Surabaya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>2013 \u2013 Peb 2014: Tugas belajar di De Paul University, Chicago \u2013 USA<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>April-Mei 2014: Membantu pelayanan pastoral paroki di Keuskupan Manokwari- Sorong, Papua Barat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rm. Petrus Kukuh Dono Budono CM lahir di Madiun, 26 Juli 1962 dari pasangan Bpk. Wage Soediro dan Ibu Watiningsih. Dia adalah anak ke-2 (dua) dari 7 (tujuh) orang bersaudara. Ketika masih remaja Rm. Kukuh mulai aktif sebagai misdinar sekalipun belum dibaptis. Berkat persahabatan dengan teman-teman misdinarnya dan dukungan kedua orangtuanya, Rm. Kukuh dibaptis saat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":31,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[118],"tags":[],"class_list":{"0":"post-538","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","6":"category-kisah"},"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/538","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/31"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=538"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/538\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":542,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/538\/revisions\/542"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=538"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=538"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=538"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}