{"id":7659,"date":"2024-09-08T08:47:15","date_gmt":"2024-09-08T01:47:15","guid":{"rendered":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=7659"},"modified":"2024-09-08T08:47:24","modified_gmt":"2024-09-08T01:47:24","slug":"beato-jan-havlik-cm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/cm-indonesia.org\/?p=7659","title":{"rendered":"BEATO J\u00c1N HAVL\u00cdK, CM"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><span class=\"uppercase\">SEMINARIS VINSENSIAN, MARTIR KRISTUS<\/span><\/strong><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><a href=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414.png\"><img decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"526\" data-src=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-1024x526.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-7660 lazyload\" data-srcset=\"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-1024x526.png 1024w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-300x154.png 300w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-768x394.png 768w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-818x420.png 818w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-696x358.png 696w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414-1068x549.png 1068w, https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Screenshot-2024-09-08-113414.png 1135w\" data-sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" src=\"data:image\/svg+xml;base64,PHN2ZyB3aWR0aD0iMSIgaGVpZ2h0PSIxIiB4bWxucz0iaHR0cDovL3d3dy53My5vcmcvMjAwMC9zdmciPjwvc3ZnPg==\" style=\"--smush-placeholder-width: 1024px; --smush-placeholder-aspect-ratio: 1024\/526;\" \/><\/a><figcaption class=\"wp-element-caption\">Foto dan gambar Jan Havlik, diambil dari: https:\/\/cmglobal.org\/it\/2024\/08\/29\/jan-havlik-la-vita-e-le-opere\/?fbclid=IwY2xjawFJ3jFleHRuA2FlbQIxMQABHVl5eqsBizmE_BUD0PpjWTxbCQGrUH79BPWtYVpRMrbl9ojw8CdWhVn7qg_aem_55CIHQABLCHz8LYGG1Bgbg. <strong>Memperingati beatifikasi Jan Havlik, 31 Agustus 2024.<\/strong><\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<p><em>\u201cHati Yesus, yang di dalamnya berdiam seluruh kepenuhan keilahian, biarlah aku selalu bahagia bersama-Mu, biarlah hatiku hanya menginginkan Engkau, dan janganlah pernah ada waktu untuk berpisah dengan-Mu&#8230; Alangkah baiknya jika semua usaha dan semua tindakanku tertuju hanya kepada-Mu, Tuhan, Allahku\u201d.<\/em> <em>(Dari Buku Harian J\u00e1n Havl\u00edk)<\/em><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Masa kecil di Vl\u010dkovany dan seminari di Banska Bystrica<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>J\u00e1n Havl\u00edk lahir di Vl\u010dkovany, sekarang Dubovce, sebuah desa di Slowakia utara, yang berbatasan dengan Moravia. Ia lahir pada tanggal 12 Februari 1928, sekitar sepuluh tahun setelah pembubaran Kekaisaran Austria-Hungaria di jantung Eropa, yang mana saat itu sebuah negara baru telah terbentuk dari persatuan pelbagai etnis seperti Bohemia, Moravia, Silesia, Slowakia, dan Ruthenia Subkarpathia. Keragaman dari etnis-etnis ini, yang kemudian membentuk republik demokratis baru Cekoslowakia, menjadi kesulitan tersendiri bagi mereka untuk hidup bersama, terutama karena supremasi ekonomi dan politik penduduk Ceko, yang mewarisi sebagian besar industri Kekaisaran Austria-Hungaria, sangat dominan.<\/p>\n\n\n\n<p>Penduduk Slowakia, di sisi lain, kebanyakan adalah petani, akan tetapi mereka lekat dengan budaya religius. Di antara mereka adalah keluarga J\u00e1n Havl\u00edk. Dia adalah anak tertua dari empat bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan negara dengan gaji yang kecil. Ibunya adalah seorang perawat kebidanan, tetapi pekerjaannya tidak tetap. Pekerjaan tersebut tidak mencukupi, sehingga orang tuanya juga harus bekerja sampingan sebagai petani.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada proses beatifikasi putranya, ibunya tidak malu untuk mengungkapkan kemiskinan keluarga mereka: \u201cJ\u00e1n berjalan-jalan dengan sepatu bot ayahnya yang sangat besar; bahkan mantel yang ia kenakan adalah milik ayahnya. Dan saya tidak bisa melakukan apa-apa dengan 120 Koruna yang saya dapatkan dari pekerjaan saya; berapa kali saya menangis ketika saya melihatnya, berpikir bahwa anak laki-laki lain berpakaian sopan, sementara anak saya terlihat seperti orang yang tidak punya apa-apa\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, Manzoni (Alessandro Manzoni, penyair Italia, 1785-1873) berkata dalam karyanya \u201cPromessi Sposi\u201d: \u201cMeskipun ada kelaparan, seseorang harus berterima kasih kepada Tuhan, dan merasa bahagia: lakukan apa yang bisa dilakukan dengan tekun, menolong diri sendiri, dan kemudian merasa bahagia. Karena kemalangan bukanlah pergi dan menjadi miskin, kemalangan adalah melakukan yang jahat\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, di dalam kemiskinan keluarga ini terdapat kekuatan doa dan kepercayaan kepada Tuhan. Anak-anak berkumpul dalam doa di sekeliling ibu mereka dan menimba darinya semangat religius yang mendalam. Para saksi mata menceritakan bahwa pada saat J\u00e1n mengikuti pelajaran katekese, ia bersikap sangat bersemangat namun sedikit kurang disiplin.<\/p>\n\n\n\n<p>Akan tetapi, setelah Komuni Pertama, terdapat sebuah perubahan mendalam pada dirinya dan ini terlihat dalam komitmennya untuk belajar. Setiap hari ia bersepeda sejauh 36 km. Pada awal tahun ajaran baru, atas saran bibi dari pihak ayahnya, Suster Modesta Havl\u00edkova, seorang suster Putri Kasih, J\u00e1n masuk ke \u201cSekolah Kerasulan\u201d (seminari menengah) di Banska Bystrica, Slowakia tengah. Dia berusia 15 tahun saat itu dan segera menyukai para sahabat dan superiornya dengan antusiasme anak muda, yang baginya tampak seperti keluarga baru yang memikatnya dengan kekuatan yang tak tertahankan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u201cMalam kaum barbar\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah menyelesaikan ujian sarjana muda, J\u00e1n siap memasuki seminarium internum Kongregasi Misi. Dia sudah lama menginginkannya. Pada tanggal 30 Juli 1949, enam orang pemuda masuk bersamanya. Saat itu adalah masa yang penuh dengan semangat rohani. Masa belajar dan tenggelam dalam semangat misionaris Vinsensian: \u201cJ\u00e1n,\u201d demikian kesaksian ibunya, \u201cingin menjadi seorang misionaris dan pergi ke Rusia untuk mengajarkan kristianisme kepada anak-anak Stalin\u201d. Pada masa itu komunis yang berkuasa memberlakukan struktur organisasi dan metode komando berdasarkan konsep sentralisme demokratis Lenin. Pada awal 1950, penindasan terhadap Gereja dimulai. Pada malam tanggal 14-15 April, rezim memutuskan untuk menghapus semua tarekat religius. Itu adalah malam yang diberi nama sandi: Aksi K, di mana semua bukti yang terlihat sebagai penentangan terhadap negara akan dihilangkan. Itu adalah masa-masa kelam yang akan selalu diingat oleh bekas negara Cekoslowakia dan rakyatnya, seperti yang didefinisikan oleh Kardinal J\u00e1n Korec sebagai \u201cmalam kaum barbar\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Penindasan berlanjut selama lebih dari satu bulan: lebih dari 2.000 religius dan imam dipenjara di tahanan atau pusat-pusat kerja paksa. Pada tanggal 5 Mei 1950, giliran para imam Vinsensian. Seminari ditutup dan Janko (nama kecil dari J\u00e1n Havl\u00edk), bersama dengan rekan-rekannya sesama novis, kemudian mengalami pengalaman pertama deportasi dan apa yang disebut \u201cpendidikan ulang komunis\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka dikirim untuk kerja paksa dalam pembangunan \u201cbendungan pemuda\u201d untuk pembangkit listrik tenaga air di Puchov di Slowakia utara. Dalam waktu tiga bulan, karena perlawanan dari para pemuda, partai mengusulkan agar para seminaris bergabung dengan fakultas teologi \u201cCyril-Methodian\u201d yang baru, yang dibuka di Bratislava, dengan tujuan untuk melatih para imam baru yang setia kepada kekuasaan negara. Janko dan teman-temannya menentukan pilihan: mereka menolak tawaran itu dan kembali ke keluarga mereka.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Seminari klandestin di Nitra<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penolakan ini tidak membuat para seminaris muda Vinsensian takut, beberapa di antaranya, pada awal tahun 1951, setelah diyakinkan oleh J\u00e1n dan dengan persetujuan dari para petinggi Kongregasi, memutuskan untuk membuka kembali seminari secara sembunyi-sembunyi. Risikonya sangat tinggi karena pengetatan tindakan penganiayaan. Dengan kecerdikan Janko, sebuah tempat dan buku-buku pelajaran ditemukan. Tempat itu ditemukan di sebuah flat di Nitra, atas saran seorang bibinya, Suster Modesta. Pelajaran teologi di seminari klandestin diadakan pada malam hari di bawah bimbingan Romo \u0160tefan Kri\u0161t\u00edn melalui studi pribadi dan komunal. Pada siang hari, para seminaris memiliki pekerjaan, sehingga mereka tetap dapat menjaga kesan sebagai pekerja biasa.<\/p>\n\n\n\n<p>J\u00e1n bekerja di perusahaan milik negara bernama Sitno. Dia melakukan ini selama lima bulan hingga pertengahan Mei 1951, dan berhenti untuk memiliki lebih banyak waktu untuk belajar. Dengan datangnya musim panas, \u201ckelompok Nitra\u201d menghidupi dirinya sendiri dengan bekerja serabutan di ladang untuk menuai, mengumpulkan jerami, memanen kentang dan buah bit. Pada bulan Oktober, kelompok ini menjalani tahun belajar bersama secara intensif.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Persidangan dan hukuman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Seorang anak laki-laki berusia 16 tahun, anggota Serikat Pemuda Komunis, memimpin Dinas Keamanan Negara untuk menemukan kelompok klandestin di Nitra. Iklim pengawasan yang diberlakukan oleh rezim terhadap masyarakat membuat anak-anak sekolah menjadi mata-mata yang mengawasi gerak-gerik orang-orang yang mencurigakan. Menjadi seorang informan bukan hanya sebuah tugas, tetapi juga sebuah kehormatan bagi para komunis muda.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 29 Oktober tahun itu, polisi rahasia menggerebek rumah (Seminarium Internum) dan menangkap semua orang. Sore itu adalah sore yang kelabu, mencerminkan masa depan yang akan dihadapi oleh para seminaris Vincentian. Lima belas bulan penjara yang penuh dengan kekerasan dan penyiksaan menanti mereka di depan pengadilan semu. Saat memasuki penjara, petugas berteriak dengan nada seperti polisi kepada J\u00e1n: \u201cBuka baju! Telanjang!\u201d Saat dia telanjang bulat di depan para sipir, dia merasa kepalanya dipukul oleh bungkusan peralatan penjara. Dengan seragam barunya, J\u00e1n terlihat berbeda dengan apa yang dilihat oleh Pastor Kri\u0161tin, yang juga dipenjara di Valdice: \u201cJ\u00e1n? Jiwa yang lembut, mulia, murni, hati yang peka\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan memang demikianlah yang terjadi: J\u00e1n adalah seorang pemuda yang cerdas, menarik, dan selalu tersenyum, atletis, dengan tinggi badan lebih dari 1,9 meter danmemancarkan ketenangan dan simpati. Dia memasuki penjara \u201dnegara progresif\u201d Cekoslowakia sebagai seorang pemuda yang sehat dan keluar dengan kondisi yang sangat lemah hingga tidak mampu berdiri. Saudara laki-laki J\u00e1n, Anton, yang juga merupakan bagian dari kelompok klandestin Nitra, memberikan kesaksian: \u201cJanko berada di sel isolasi di sebelah sel saya. Saya mendengar dengan jelas ketika mereka memukulinya: kamu, babi kamu babi, kamu akan masuk penjara dan tinggal di sana sampai mati!\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan kebrutalan penyiksaan ini, para inspektur bermaksud untuk menghancurkan keseimbangan mentalnya. Di persidangan J\u00e1n Havlik mengulangi apa yang telah dia katakan dalam penyelidikan awal: bahwa dia ingin menjadi seorang imam misionaris dalam Kongregasi Misi. Di akhir persidangan, J\u00e1n berkata kepada para hakim: \u201cSaudara-saudara, jika ada seseorang di sini yang bersalah, maka itu adalah saya!\u201d. Saudaranya, Anton mengatakan: \u201cJanko berdiri di sana, tampak mulia. Sangat tampan!\u201d Pada akhirnya, dakwaan untuk J\u00e1n adalah pengkhianatan tingkat tinggi, yang dijelaskan oleh hakim dengan kata-kata berikut: \u201cDia adalah musuh sejati tatanan demokrasi-rakyat, yang telah memutuskan untuk berjuang dengan tegas melawan sosialisme\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Di kamp kerja paksa<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah dijatuhi hukuman, J\u00e1n dan rekan-rekannya dibawa ke kamp kerja paksa di J\u00e1chymov. Sejak saat itu, tempat tinggalnya adalah barak, parit, terowongan, dan penjara. Ketika petugas yang berjaga memberikan J\u00e1n formulir untuk diisi sebelum keberangkatan terakhirnya dari Slowakia, ketika ditanya apa yang menjadi \u201cinspirasi untuk kegiatan ilegalnya\u201d, dia menulis: \u201cInspirasi untuk kegiatan saya adalah murni religius!\u201d Dan petugas mencatat di sana: \u201cPelanggaran yang dilakukan: belajar teologi!\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Itulah sebabnya inisial yang tercetak di berkas hukumannya adalah huruf P kapital untuk menandakan: tahanan \u201cpolitik\u201d. Dan begitulah dia selalu diperlakukan dalam semua permohonan pengurangan hukuman yang diajukan kemudian, selalu dengan hasil negatif, karena pelanggarannya dianggap sangat berat.<\/p>\n\n\n\n<p>Di blok \u201cC\u201d di mana dia ditugaskan, dia tiba dengan kondisi sangat pucat, lelah, kehabisan tenaga karena kelaparan dan penganiayaan yang dideritanya selama tahap interogasi. Dia diberi nomor A0 11355, yang berarti \u201ctenaga kerja yang dirampas kebebasannya\u201d, yang tak lain adalah budak! Di kamp J\u00e1chymov dan di P\u0159\u00edbram, ia dijebloskan ke dalam perut bumi sedalam seribu meter, \u201cditurunkan layaknya seekor monyet ke dalam ember\u201d untuk menggali batu-batu yang kaya akan uranium. Pada saat-saat naik ke atas, di antara gubuk-gubuk, ia berusaha menjadi teman bagi semua orang, memberi semangat, dan membantu dengan kehadirannya. \u201cDi malam hari, ketika kami memiliki kesempatan, di antara barak-barak kami akan berdoa Rosario bersama Janko, dan dia akan menasihati kami: Teman-teman, tanpa Tuhan kalian tidak bisa hidup. Di kamp ini Tuhan menjadi kelihatan di dalam diri kita. Pada akhirnya, cahaya, kehidupan, kebebasan akan menang\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun ia tidak pernah menerima tahbisan imamat, ia adalah seorang misionaris sejati. Kondisi kerja yang tidak manusiawi sangat mengganggu kesehatannya. Pada permintaan baru untuk pengurangan hukumannya, ia mendapat penolakan lebih lanjut dengan putusan ini: \u201cNarapidana J\u00e1n Havlik, seorang penambang bawah tanah, memenuhi komitmennya 100 per 172 persen. Namun, ia tidak mengakui kesalahannya. Sebaliknya, dia bergerak dalam kelompok orang yang mencurigakan dan mengabaikan kegiatan budaya di kamp. Dan karena hukumannya tidak memenuhi tujuan pendidikan ulang, tidak ada pengampunan yang diberikan\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sendirian, sendirian, makin lama makin sendirian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak saat itu, sebuah pengadilan baru yang sangat panjang dilakukan untuk J\u00e1n yang berlangsung hingga akhir tahun 1959. Dia dikurung di sel isolasi selama berbulan-bulan, tanpa kontak dengan siapa pun kecuali tatapan dari lubang intip para sipir. Itu sangat mengerikan. Menurut laporan medis Dr Katarina Sedl\u00e1kov\u00e1, para sipir mungkin memberinya obat-obatan tanpa sepengetahuannya. Maka, antara 20 dan 25 Februari 1959, ketahanan psikologisnya yang kuat pun runtuh dan ia dirawat di bangsal psikiatri. Apa yang terjadi di dalam jiwanya selama periode ini tidak mungkin diketahui.<\/p>\n\n\n\n<p>Kehancuran jiwa, yang disebabkan oleh pemisahan antara penjara dan isolasi yang tak berkesudahan, membuatnya mengalami saat-saat yang tak tertahankan. Hanya di dalam Tuhan ia menemukan penghiburan: \u201cSelama berjam-jam penderitaan\u201d, tulisnya, \u201csaya akan berlindung di bawah salib Golgota dan dalam Roh membiarkan darah Kristus mengalir di atas kepala saya, menantikan kesegaran\u201d. Dalam situasi yang penuh gejolak ini, terutama dalam interogasi yang tak berkesudahan dan saat-saat isolasi yang tak kunjung usai, ia mengalami kasih karunia Allah yang melindunginya melalui malaikat pelindungnya: \u201cMalaikat mengelilingi saya dengan lingkaran pelindung sehingga saya hampir tidak terlihat&#8230;. Pertahanan Allah begitu kuat sehingga semua serangan tidak berguna dan tanpa hasil\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Terhadap perlawanannya yang gigih ini, tanggapan dari Dinas Negara adalah likuidasi\/pemberesan akhir. Dia dipindahkan dari penjara ke penjara. Setelah Valdice, ia dikirim ke penjara No. 2 di Pankrac dan kemudian ke penjara No. 1 di Ru\u017e\u00edn di Praha. Apa lagi yang bisa mereka lakukan terhadap pemuda ini, yang saat itu sakit parah dengan penyakit jantung, yang belum pernah mereka lakukan terhadapnya? Mereka telah menghajarnya dengan tendangan hingga ia kehilangan kesadaran. Mereka telah mengurungnya selama berbulan-bulan di ruang isolasi dan membawanya ke ambang skizofrenia. Mereka telah memaksanya bekerja di tempat-tempat yang paling mengerikan. Pada setiap penghakiman dia mengulangi: \u201cTujuan saya hanya semata-mata religius!\u201d. Akhirnya mereka mengirimnya ke rumah sakit jiwa di Slowakia. Di sana mereka menempatkannya di tempat tidur yang dalam bahasa sehari-hari disebut M.U.K.L. (Mu\u017e: manusia \u2013 Ur\u010den\u00fd: yang ditakdirkan \u2013 K: untuk \u2013 Likvidaci: dilikuidasi).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pembebasan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pada bulan Agustus dan September 1962, J\u00e1n dibawa ke Brno ke unit perawatan intensif. Nyawanya berhasil diselamatkan. Sebulan kemudian, saat masa hukumannya berakhir, ia dibebaskan di depan pintu penjara. Dia bahkan tidak bisa berdiri. Ia mengenang: \u201cSaya bersandar di dinding sambil menunggu seseorang menolong saya. Orang-orang berlalu lalang di sekitar saya, tetapi tidak ada yang menolong. Seolah-olah saya tidak ada di sana. Akhirnya seorang pria tua lewat yang menyadari bahwa saya adalah seorang lumpuh dan berkata kepada para penjaga: Mengapa Anda tidak menemaninya? Tidakkah kalian lihat dia tidak bisa berdiri?\u201d. Maka mereka membawanya ke stasiun. Saat itu tanggal 29 Oktober 1962.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>\u201cDia meninggal dalam keadaan berdiri\u201d<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tidak lagi bekerja sebagai tenaga kerja di tambang, dia sekarang dibuang oleh rezim penindas yang telah mengasingkannya dari mimpi-mimpi masa mudanya. Selama tiga tahun berada di antara tempat tidur dan rumah sakit dan dengan perawatan ibu dan teman-temannya, J\u00e1n dapat pulih.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, maut telah mendekat. Hal itu tertulis di tulang-tulangnya, dalam rematik yang menyakitkan serta menyiksa akibat pekerjaan berat yang melelahkan di penjara. Malam Natal 1965 tiba dan saat makan malam, dia memberikan sambutan singkat: \u201cKita harus hidup dalam kasih yang dibawa Yesus kepada kita, sehingga persatuan dapat memerintah di antara kita. Dan jika Tuhan menghendaki, kita akan bersama lagi di lain waktu. Saya tidak akan lagi berada di sini!\u201d. Di luar ada angin dingin. Malam itu, keluarga tersebut memutuskan untuk tidak pergi ke misa tengah malam dan tidur. Ketika sang ibu mendengar Janko bangun. Dia bertanya kepadanya: \u201cMau pergi kemana?\u201d Dia menjawab: \u201cAku mau pergi ke Misa Tengah Malam!\u201d. \u201cTapi Janko, bagaimana kamu akan kembali?\u201d kata ibunya, lalu ia menjawab: \u201cSaya akan dibantu oleh angin, sehingga lebih mudah untuk berjalan. Sudah lama aku tidak pergi ke Misa Tengah Malam. Tahun ini aku ingin pergi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tanggal 27 Desember, ia memutuskan untuk pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan. Dia hanya berhasil sampai di depan rumah Dr Barat. Dia melepas kacamata dan sarung tangannya dan bersandar di tempat sampah. Ketika Dr Barat melihatnya, ia bergegas menghampiri dan dengan bantuan orang yang lewat membawanya masuk ke dalam rumah. Dan di sanalah dia meninggal. Ia berusia 37 tahun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam proses beatifikasi, para dokter sepakat bahwa kematiannya disebabkan oleh perlakuan tidak manusiawi yang dideritanya selama bertahun-tahun di penjara. Dan para konsultor-teolog mengakui bahwa hukuman yang dideritanya dilakukan atas dasar kebencian terhadap iman dan oleh karena itu kematiannya harus dianggap sebagai kemartiran yang otentik.<\/p>\n\n\n\n<p>Ada kemartiran yang berlangsung dalam sekejap mata dengan sebuah peluru yang masuk ke dalam tubuh, tetapi kemartiran J\u00e1n berlangsung selama sebelas tahun. Praktis sepertiga dari hari-harinya, menanggung segala macam penderitaan di penjara. Dalam situasi itu hanya imanlah yang menopangnya.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-group is-vertical is-layout-flex wp-container-core-group-is-layout-8cf370e7 wp-block-group-is-layout-flex\">\n<p><strong>Ditulis dalam Bahasa Italia oleh: P. Erminio Antonello CM, <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>dengan judul asli:<\/strong> <strong><em>\u201cJ\u00e1n Havl\u00edk, Seminarista Vincenziano, Martire di Cristo\u201d <\/em>pada Majalah <em>Informazione Vincenziana. Rivista dei Vincenziani D\u2019Italia, edisi XXV 7\/8-2024, pp. 15-18.<\/em><\/strong><\/p>\n<\/div>\n\n\n\n<p><strong>Diiterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dengan ijin penulis oleh: Rm. Daniel Ortega Galed CM<\/strong> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>SEMINARIS VINSENSIAN, MARTIR KRISTUS \u201cHati Yesus, yang di dalamnya berdiam seluruh kepenuhan keilahian, biarlah aku selalu bahagia bersama-Mu, biarlah hatiku hanya menginginkan Engkau, dan janganlah pernah ada waktu untuk berpisah dengan-Mu&#8230; Alangkah baiknya jika semua usaha dan semua tindakanku tertuju hanya kepada-Mu, Tuhan, Allahku\u201d. (Dari Buku Harian J\u00e1n Havl\u00edk) Masa kecil di Vl\u010dkovany dan seminari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":34,"featured_media":7661,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_editorskit_title_hidden":false,"_editorskit_reading_time":0,"_editorskit_is_block_options_detached":false,"_editorskit_block_options_position":"{}","_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[165,375],"tags":[],"class_list":{"0":"post-7659","1":"post","2":"type-post","3":"status-publish","4":"format-standard","5":"has-post-thumbnail","7":"category-orangkudus","8":"category-teladan-kekudusan"},"aioseo_notices":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/cm-indonesia.org\/wp-content\/uploads\/2024\/09\/Jan-Havlik-CM.png","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7659","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/34"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7659"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7659\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7662,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7659\/revisions\/7662"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7661"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7659"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7659"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/cm-indonesia.org\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7659"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}