
Kongregasi Misi (CM) kawasan Asia Pasifik menyelenggarakan Asia Pacific Visitors Conference (APVC) 2026 di Batu, Indonesia, pada 20–25 April 2026. Pertemuan ini dihadiri para Visitator dari berbagai provinsi beserta Konsultor, Sekretaris dan bendahara (Indonesia, Vietnam, Filipina, China, India Utara, India Selatan, Oceania, Regio India Timur Laut, Solomon Islands, dan PNG), bersama Superior Jenderal dan Curia Generalis, sebagai forum refleksi bersama untuk meneguhkan arah misi di tengah dinamika Gereja dan dunia. Dalam suasana persaudaraan Vinsensian, para peserta diajak membaca tanda-tanda zaman serta memperbarui komitmen pelayanan kepada kaum miskin.
Selama pertemuan, berbagai sesi penting dibahas, mulai dari penguatan identitas Keluarga Vinsensian hingga tata kelola Kongregasi. Keluarga Vinsensian yang kini tersebar di lebih dari 170 negara dengan jutaan anggota ditekankan sebagai kekuatan besar yang perlu terus dipersatukan dalam semangat kolaborasi. Para peserta juga mendalami pentingnya administrasi yang tertib, komunikasi yang efektif, serta transparansi dalam pengelolaan karya sebagai bagian dari tanggung jawab misi.

Isu panggilan dan formasi menjadi perhatian utama dalam APVC 2026. Para Visitator didorong untuk membangun budaya panggilan yang lebih terstruktur, termasuk penunjukan direktur panggilan penuh waktu dan penguatan formasi bagi para formator. Selain itu, pembaruan semangat evangelisasi juga ditegaskan, dengan ajakan untuk menghadirkan Injil secara kreatif dan kontekstual, baik dalam misi ad gentes maupun dalam pelayanan pastoral sehari-hari.


APVC 2026 juga menyoroti pentingnya pembaruan di bidang keuangan, komunikasi, serta pembinaan internasional. Berbagai inisiatif seperti penguatan peran ekonom, pengembangan media komunikasi, dan program formasi internasional melalui CIF di Paris menjadi langkah konkret menuju Kongregasi yang lebih siap menghadapi tantangan global. Melalui pertemuan ini, para peserta meneguhkan komitmen untuk melangkah bersama dalam semangat Vinsensian: membangun Gereja yang misioner, kolaboratif, dan semakin setia melayani mereka yang paling membutuhkan.
Pertemuan yang berlangsung pada 20–25 April ini tidak dimulai dengan diskusi formal, melainkan dengan ziarah makna: kunjungan ke Bhakti Luhur di Malang, perayaan Ekaristi bersama, serta tabur bunga di makam Romo Paul Janssen, CM. Momen ini menjadi penanda bahwa seluruh pertemuan berakar pada semangat pelayanan kepada mereka yang kecil, lemah, dan tersingkir.
Setiap visitator dan superior misi melaporkan perkembangan di setiap negaranya masing-masing. Setiap presentasi bukan sekadar laporan, melainkan cermin realitas: tentang tantangan panggilan, dinamika komunitas, dan kreativitas dalam pelayanan. Dalam dialog yang terbuka, para Visitator saling belajar, menyadari bahwa meski konteks berbeda, panggilan yang dihidupi tetap sama—melayani Kristus dalam diri orang miskin.

Di tengah padatnya agenda, perjumpaan budaya menjadi warna tersendiri. Setiap malam, perwakilan provinsi menampilkan kekayaan budaya mereka—tarian, lagu, dan ekspresi khas yang menghadirkan keindahan keberagaman dalam satu keluarga. Kegiatan kunjungan ke karya-karya CM di Malang, termasuk seminari dan rumah formasi, semakin memperkaya pengalaman peserta akan realitas hidup Kongregasi di Indonesia.
Puncak pertemuan terjadi saat penutupan di Surabaya, dalam perayaan Ekaristi bersama Keluarga Vinsensian dan para kolaborator. Di sana, APVC tidak hanya berakhir sebagai pertemuan, tetapi berubah menjadi perutusan. Para Visitator kembali ke negara masing-masing dengan membawa semangat baru—untuk memperkuat kolaborasi, memperdalam panggilan, dan terus menghadirkan kasih Kristus bagi mereka yang paling membutuhkan. Dari Batu hingga Surabaya, perjalanan ini menjadi tanda bahwa misi Vinsensian terus hidup, bergerak, dan berkembang di tengah dunia.
Tim Sekretariat CM


