
Surat Superior Jenderal
Tomaž Mavrič, CM
Kita memasuki masa suci Prapaskah setelah penutupan Tahun Yubileum Pengharapan, yang telah mewarnai kehidupan Gereja sebagai ajakan bagi kita untuk mengarahkan pandangan kita dan memperbarui kepercayaan kita pada janji-janji Allah. Masa itu adalah waktu rahmat, ketika kita diajak untuk menemukan kembali bahwa harapan tidak mengecewakan (Rm 5:5), karena berakar pada kesetiaan Allah dan terwujud dalam jalan-jalan pertobatan yang konkret, belas kasih, dan komitmen.
Cakrawala harapan ini menerangi secara khusus momen karisma kita saat ini: ketika kita mendekati penutupan peringatan empat abad berdirinya Kongregasi Misi (17 April 2026), kita dipanggil untuk menjaga memori masa lampau sebagai sumber masa depan.
Merayakan suatu abad bukanlah menoleh ke belakang dengan nostalgia, melainkan membiarkan diri kita ditantang oleh apa yang telah dikerjakan Roh Kudus melalui Santo Vinsensius a Paulo, agar kita mampu mengenali dengan jelas bagaimana hari ini kita dapat terus berbuah dan menjadi tanda-tanda harapan Injili yang dapat dipercaya, khususnya di tengah kaum miskin.
Melalui surat ini, saya ingin menyapa Anda semua, anggota Keluarga Vinsensian, agar perjalanan Prapaskah menjadi kesempatan untuk pembaruan pertobatan pribadi dan komunitas, serta membuka jalan bagi pilihan-pilihan yang berani sehingga mampu melahirkan masa depan bagi misi yang dipercayakan kepada kita.

Saya ingin memusatkan perhatian pada dua ajaran Santo Vinsensius yang penting untuk menghayati perjalanan Prapaskah kita sebagai Keluarga Vinsensian: melanjutkan misi Yesus di bumi pada saat ini dan selamanya dengan kerendahan hati yang mendalam.
Santo Vinsensius berulang kali mengundang para Imam dan Bruder Kongregasi Misi serta para suster Puteri Kasih untuk melanjutkan misi Yesus. Ia menegaskan bahwa panggilan kita adalah kelanjutan dari panggilan Kristus sendiri: meneladan cara hidup-Nya, pelayanan-Nya, dan tujuan-Nya. Tugas kita adalah melanjutkan misi yang telah dimulai oleh Putra Allah, dengan sarana yang sama: kemiskinan, kemurnian, dan ketaatan.
Yesus hidup dalam relasi putra dengan Bapa dan dalam penyerahan total kepada saudara-saudari-Nya, terutama yang paling miskin dan terluka. Santo Vinsensius memandang Kristus sebagai Pewarta Injil bagi kaum miskin, yang diutus Bapa untuk mewartakan Kabar Baik, menyembuhkan hati yang terluka, mengangkat yang jatuh, dan membuat belas kasih Allah nyata dalam sejarah konkret.
Mengikuti Yesus bukan sekadar meniru tindakan-tindakan tertentu, melainkan mengadopsi cara-Nya memandang manusia, tersentuh oleh penderitaan mereka, dan menanggapinya dengan kasih yang aktif, rendah hati, dan kreatif.
Bagi Keluarga Vinsensian, melanjutkan apa yang dilakukan Yesus berarti membiarkan diri kita dibimbing oleh Roh yang sama yang menggerakkan Kristus dan Santo Vinsensius: Roh yang mendorongkita kepada kaum miskin, bukan sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi sebagai tempat di mana Tuhan terus menyatakan diri-Nya.
Di abad ke-21 yang ditandai oleh bentuk-bentuk baru kemiskinan, kesepian, dan ketidakadilan global, Tuhan mengundang kita untuk menghidupi mistik kasih: mengembangkan cara pandang kontemplatif, membangun relasi yang dekat, serta mengembangkan kasih yang kolaboratif, cerdas, dan terorganisasi.
Betapa menakjubkan mengalami kepercayaan Yesus kepada kita! Ia mempercayakan kepada kita yang rapuh pewartaan Injil, pelayanan kepada kaum miskin, dan kesaksian kasih-Nya di dunia. Namun kepercayaan itu bisa disalahartikan: dapat berubah menjadi kesombongan, penghakiman, atau pencarian pengakuan. Kepercayaan Tuhan dikhianati ketika pelayanan berubah menjadi kuasa, ketika karisma disalahgunakan untuk membangun batas-batas eksklusif, atau ketika rasa memiliki berubah menjadi sikap yang menjauhkan, bukan mempersatukan dalam persekutuan.
Kitab Suci mengingatkan: “Apakah yang engkau miliki yang tidak engkau terima?” (1Kor 4:7). Segala sesuatu adalah rahmat. Kesadaran bahwa semuanya merupakan anugerah membebaskan hati dari persaingan dan menuntun kita pada sikap syukur yang tulus.
Di sinilah kerendahan hati menjadi sekolah bagi kita semua. Santo Vinsensius menyebut kerendahan hati sebagai kebajikan yang indah dan penuh cinta, dasar dari segala kasih sejati. Tanpa kerendahan hati, kita tidak akan membuat kemajuan rohani maupun membawa manfaat bagi sesama.
Kerendahan hati melibatkan tiga hal:
- Mengakui dengan jujur bahwa kita layak dipandang rendah;
- Bersukacita jika kekurangan kita diketahui;
- Menyembunyikan, sejauh mungkin, segala kebaikan yang Tuhan kerjakan melalui kita, dan jika tidak mungkin, mengembalikan semuanya kepada belas kasih Allah.
Perjalanan Prapaskah ini menuntun kita kembali kepada inti panggilan kita: menjadi, sekarang dan selamanya, kehadiran Kristus yang hidup — melalui perkataan, tindakan, dan langkah kita — sebagai kelanjutan misi-Nya di dunia.

“Sekarang dan selamanya” mengungkapkan keyakinan mendalam iman dan karisma Vinsensian: apa yang lahir dari Roh Allah dalam sejarah tidak hanya milik masa lalu, tetapi tetap hidup, berbuah, dan aktif dalam Gereja.
Karisma yang diberikan melalui Santo Vinsensius pada abad ke-17 adalah anugerah Roh yang tetap relevan sepanjang zaman. Selama masih ada kaum miskin untuk dilayani, Injil untuk diwartakan, kasih untuk diwujudkan, dan komunitas untuk dibangun, karisma Vinsensian akan tetap perlu dan berbuah.
Namun hanya dalam kerendahan hati yang mendalam karisma itu dapat tetap subur. Kerendahan hati memungkinkan karisma diperbarui, dimurni-
kan oleh sejarah, ditantang oleh kaum miskin, dan diarahkan kembali oleh Roh.
Marilah kita mempercayakan masa pertobatan ini kepada Roh Tuhan, agar Ia memurnikan cara pandang kita, merendahkan hati kita, dan memperbarui sukacita kita dalam melayani Kristus dalam diri kaum miskin. Dengan demikian, Prapaskah menjadi jalan menuju hidup yang lebih sederhana, lebih Injili, dan lebih berkobar dalam kasih.
Dengan doa ini, marilah kita saling mendampingi menuju Paskah Yesus, yakin bahwa Dia yang telah memanggil kita terus berjalan bersama kita dan berkarya melalui kemanusiaan kita yang rapuh namun bersedia.



