MAKNA PASKAH 2020 DI TENGAH WABAH COVID-19

0
1238

Oleh: Rm. G. Tri Wardoyo, CM

Paskah 2020 kelihatannya akan dikenang sepanjang masa; ia memiliki sejarahnya tersendiri dibanding dengan paskah-paskah sebelumnya. Pada paskah-paskah sebelumnya, umat merayakan rangkaian upacara, seperti Minggu Palma, Tri Hari Suci, dan Minggu Paskah dengan hadir langsung di gereja-gereja. Sedangkan pada paskah tahun ini, berdasarkan “Dekrit pada Masa Covid-19” yang ditandatangani oleh Kardinal Robert Sarah selaku Ketua Perfek Kongregasi bagi Ibadah Ilahi dan Sakramen, dan Uskup Agung Arthur Roche, sekretaris, Gereja Katolik memberi dispensasi bagi umat untuk merayakan rangkaian upacara tersebut secara live streamming dari rumah mereka masing-masing. Dekrit ini kemudian diteruskan oleh Keuskupan-keuskupan termasuk di Indonesia. Dekrit ini dimaksudkan untuk memutus penyebaran virus corona yang sudah tersebar di 213 negara. Per 16 April 2020 tercatat angka kematian akibat covid-19 sejumlah 126.140 dan ada 1.954.724 orang yang terjangkit. Di Indonesia sendiri, pada hari yang sama sudah ada 5.516 orang yang terpapar virus ini; 548 orang dinyatakan sembuh dan 496 orang meninggal. Namun demikian, di tengah wabah covid-19 ini, misteri Paskah sebagai sentral iman kristiani tidak bisa ditunda. Karena itu, dengan dispensasi ini partisipasi umat dalam “Misa online” mendapatkan dasar pembenarannya. Pertanyaannya ialah apa makna Paskah 2020 di tengah wabah covid-19 ini? Ada dua poin yang bisa kita renungkan, pertama, paskah sebagai pernyataan kehadiran dan kemuliaan TUHAN, dan kedua, paskah sebagai undangan untuk melakukan pertobatan.


“Akulah TUHAN, apabila Aku …”


Kutipan dari Kitab Keluaran bab 14 wajib dibacakan pada Malam Paskah. Perikop ini bercerita mengenai pembebasan bangsa Israel dari tangan orang-orang Mesir. Melalui campur tangan TUHAN, Musa membawa keluar bangsa Israel dari Mesir yang ditandai dengan terbelahnya air laut sehingga bangsa Israel bisa menyelamatkan diri dari kejaran tentara Firaun. Ini merupakan tanda kehadiran dan keterlibatan TUHAN dalam sejarah keselamatan bangsa Israel. Di kemudian hari kisah pembebasan bangsa Israel ini dimaknai sebagai paskah orang Yahudi.


Pembebasan bangsa Israel sebenarnya tidak hanya demi kepentingan umat TUHAN saja, melainkan juga demi kepentingan TUHAN sendiri yakni untuk menyatakan kehadiran dan kemuliaanNya baik kepada umatNya sendiri maupun kepada bangsa lain.


Pengalaman perbudakan oleh bangsa Mesir tentu meninggalkan banyak luka atau trauma bagi bangsa Israel bahkan menyisakan pertanyaan-pertanyaan seputar TUHAN. Di masa sulit ada godaan untuk berpikir bahwa TUHAN tidak hadir; TUHAN telah meninggalkan umatNya. TUHAN yang mahakuasa dipertanyakan kekuasaanNya. Jika Ia mahakuasa mengapa Ia membiarkan umatNya mengalami perbudakan yang begitu panjang; pengalaman ini mengakibatkan penderitaan bagi bangsa Israel sehingga mereka berseru-seru minta tolong kepada TUHAN (bdk. Kel. 2:23).


Dalam krisis seperti ini, pengarang Kitab Suci memiliki tanggung jawab untuk menguatkan hati umat. Dalam Kel. 14, pengarang menggunakan formula: “… sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN” (Kel. 14:4) atau “ … bahwa Akulah TUHAN, apabila Aku memperlihatkan kemulianKu …” (Kel. 14:18) untuk menyatakan kemuliaan TUHAN. Kemunculan formula di dalam Kel. 14 ini mau mengatakan apa maksud dari penulis bahwa TUHAN hadir melalui tindakanNya.


Formula semacam ini akan banyak ditemukan dalam Kitab Yehezkiel. Nabi Yehezkiel hidup pada masa pembuangan di Babel (bdk. Yeh. 1:1). Pada waktu itu, Yerusalem dihancurkan dan ditaklukkan oleh Nebukadnezar (bdk. Yeh. 33:21). Ibu kota dengan segala tempat peribadatan mereka dalam waktu sekejab hancur akibat dilalap oleh api. Mereka sudah tidak lagi mempunyai tempat tinggal dan tempat untuk melakukan peribadatan. Dalam waktu sekejab pula mereka kehilangan orang-orang yang mereka kasihi. Dengan mata kepala sendiri, mereka menyaksikan akhir hidup dari saudara mereka. Mereka harus berpisah karena keputusan Raja Babilon untuk mengangkut mereka ke Babel. Mereka harus mengalami pengalaman yang mengerikan. Mereka harus menempuh jarak ribuan kilometer untuk sampai di Babel tempat yang sama sekali asing bagi mereka.


Di saat seperti ini, mereka kehilangan identitas mereka. Mereka tidak lagi memiliki Raja, TUHAN, dan tanah air. Krisis pun muncul. Mereka mempertanyakan kekuasaan TUHAN mereka. Mengapa mereka kalah melawan Babel? Mentalitas zaman itu memandang kekalahan sebuah bangsa dalam peperangan merupakan kekalahan Allah mereka. Perang yang mereka lakukan sesungguhnya merupakan perang antar allah-allah mereka.
Nabi Yehezkiel, sebagaimana nabi-nabi yang hidup di masa pembuangan, dituntut untuk menguatkan umat; mereka harus mengembalikan kepercayaan umat terhadap kuasa TUHAN mereka. Teologi Kitab Yehezkiel menitikberatkan pada kehadiran dan kemuliaan TUHAN. Kisah- kisah yang ditulis dalam kitab ini menceritakan tindakan-tindakan TUHAN terhadap umatNya yang ujung-ujungnya berakhir dengan formula, “Akulah TUHAN”.


Nabi Yehezkiel, dengan demikian, mencoba untuk melihat dan merefleksikan kehancuran dan pengalaman pembuangan bangsa Israel dalam kaca mata iman. Hal ini tidak terlepas dari statusnya sebagai imam. Kehancuran dan pembuangan bangsa Israel dimaknai sebagai hukuman TUHAN akibat dosa mereka. TUHAN menjadikan Raja Babel sebagai alat untuk menghukum orang-orang Yerusalem yang tidak setia padaNya.


Lebih jauh lagi, Nabi Yehezkiel mau mengatakan kepada bangsa Israel bahwa TUHAN hadir meskipun mereka berada dalam pembuangan. TUHAN tidak meninggalkan umatNya. Ia berjanji akan tinggal di tengah-tengah mereka dan akan membawa mereka kembali ke tanah air mereka (bdk. Yeh. 37:21-27). Ia pun berjanji akan menjadi Raja atas mereka. Sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Samuel, bangsa yang sama telah menolak TUHANnya dengan meminta supaya di antara mereka diangkat seorang raja yang memimpin mereka (1Sam. 8:5-7). Raja yang mereka minta terbukti tidak mampu memimpin mereka. Kini TUHAN sendirilah yang akan menjadi raja atas umatNya.


Ketidakhadiran TUHAN yang dirasakan oleh umat memiliki alasan tersendiri. Kisah Lazarus yang dibangkitkan oleh Yesus memberikan jawaban atas pertanyaan mengapa TUHAN tidak hadir di saat-saat sulit. Yesus sengaja tidak segera hadir tatkala diberitahu bahwa Lazarus sakit. Sakit dan kematian Lazarus merupakan kesempatan baik untuk memuliakan Allah, seperti dikatakan Yesus berikut, “Penyakit itu tidak akan membawa kematian, tetapi akan menyatakan kemuliaan Allah, sebab oleh penyakit itu Anak Allah akan dimuliakan” (Yoh. 11:4).


Bagi Marta dan Maria, sakit dan kematian Lazarus saudara mereka tentu merupakan derita dan bahkan mungkin malapetaka. Bisa jadi Lazarus sebagai anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga menjadi tulang punggung keluarga di Betania itu. Sama halnya dengan janda di Nain yang kehilangan anak laki-laki satu-satunya. Ia tidak hanya kehilangan orang yang dikasihi tetapi ia juga kehilangan hidup karena satu-satunya penyangga dalam hidup keluarga sudah meninggal (bdk. Luk. 7:12 dst.).


Ketidakhadiran Yesus di tengah duka yang menimpa Marta dan Maria tidak berarti bahwa Ia tidak peduli. Yesus yang digambarkan sebagai pribadi yang berbelaskasih terhadap janda di Nain tidak mungkin tidak peduli pada sahabat-sahabatNya yang sedang berduka. Sebagai Anak Allah, Yesus mempunyai rencana dan juga menghendaki supaya lewat peristiwa kematian Lazarus orang-orang yang tidak percaya kepadaNya menjadi percaya.


Hanya satu yang dibutuhkan oleh Marta dan Maria yaitu iman bahwa dalam Yesus ada kehidupan dan kebangkitan orang-orang mati. Inilah yang dikehendaki Yesus di balik kematian Lazarus. Yesus menunjukkan kepercayaan yang harus dimiliki oleh setiap orang melalui misteri Paskah yang akan Ia jalani. Yesus yang wafat di kayu Salib pada hari ketiga akan dibangkitkan. Orang beriman diundang untuk meyakini misteri Paskah ini: sengsara, wafat, dan kebangkitan Kristus.


“Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?”


Warta mengenai kebangkitan Kristus yang diserukan oleh Petrus begitu menyentuh hati para pendengar sehingga mereka bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat, saudara-saudara?” (Kis. 2:37). Senada dengan ini, warta pertobatan yang diserukan oleh Yohanes Pembaptis di awal Injil Lukas juga membangkitkan pertanyaan yang sama dari para pendengarnya, “Apakah yang harus kami perbuat?” (bdk. Luk. 3). Baik pewartaan Petrus dan Yohanes Pembaptis tentang Yesus mengundang pendengarnya untuk bertobat dan memberikan diri mereka dibaptis serta menghasilkan buah-buah yang sesuai dengan pertobatan (bdk. Luk. 3:8; Kis. 2:38-39).


Jawaban Yohanes Pembaptis dan Petrus selaras dengan misi Yesus di awal karyaNya yang menyerukan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17; bdk. Mrk. 1:15). Pada titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa segala “Peristiwa Yesus” mengundang pendengar kepada pertobatan. Kebangkitan Yesus, dengan demikian, mesti kita maknai sebagai ajakan untuk melakukan pertobatan terus menerus.


Kebangkitan Kristus meminta pengikutNya untuk memiliki cara hidup yang lebih. Rasul Paulus telah menyadarkan kita semua dalam suratnya kepada umat di Kolese untuk hidup secara benar, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi” (Kol. 3:1-2). Lebih lanjut Rasul Paulus menjelaskan dengan contoh apa saja yang dimaksud dengan perkara-perkara yang di bumi: percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (bdk. Kol. 3:5-6).


Dengan memahami dan menerima bahwa kebangkitan Yesus membawa konsekuensi pada pertobatan sebenarnya kita diajak untuk menangkap inti dari Injil yang adalah kabar gembira. Sebelum kenaikanNya ke Sorga, Yesus meninggalkan wasiat kepada para muridNya, “ … dalam nama-Nya berita tentang pertobatan dan pengampunan dosa harus disampaikan kepada segala bangsa, mulai dari Yerusalem” (Luk. 24:47). Inilah kabar gembira sesungguhnya. Kabar gembira yang harus diwartakan kepada segala bangsa. Maka benarlah apa yang dinubuatkan oleh Kayafas, seorang Imam Besar, mengenai Yesus bahwa Ia harus mati bukan hanya bagi satu bangsa melainkan bagi seluruh bangsa (bdk. Yoh. 11:52).


Pertobatan dan pengampunan itu sungguh-sungguh kabar gembira. Dosa-dosa kita seperti hutang yang semakin hari semakin menumpuk. Siapa yang tidak bergembira apabila semua hutang kita tiba-tiba dihapus? Persis inilah yang terjadi dalam perumpaan mengenai orang yang memiliki hutang sepuluh ribu talenta kepada seorang Raja yang kemudian semua hutangnya dihapus (bdk. Mat. 18:23 dst.). Perumpamaan ini mau mengatakan bahwa TUHAN itu Maha Pengampun. PengampunanNya tidak terbatas alias tujuh puluh kali tujuh (bdk. Mat. 18:22) dan angka empat ratus sembilan puluh sekali lagi mau mengatakan bahwa pengampunan TUHAN tiada batasnya. Tidak kah ini sebuah kabar yang sangat sangat menggembirakan!


Di sisi lain, pengampunan itu sungguh hadiah dari TUHAN. Dengan dosa yang kita miliki, kita sebenarnya tidak mampu menebusnya jika bukan TUHAN sendiri yang menebus dosa-dosa kita. Yesus menerima dengan rela hukuman disalib meski sebenarnya Ia tidak wajib menanggungnya. Penjahat yang disalib di sebelah kanan Yesus merepresentasikan diri kita yang berdosa (bdk. Luk. 23:32 dst.). Seperti dikatakannya kepada penjahat satunya sebenarnya kitalah yang selayaknya menerima hukuman karena dosa kesalahan kita. Yesus tidak layak dihukum, tetapi Ia mengambil tempat kita. Dengan demikian, berkat Kristus yang tergantung di kayu salib, dosa kita dihapus secara cuma-cuma.


Oleh karena itu, kita tidak perlu lagi bertanya, “Apakah yang harus kami perbuat?” karena kita sudah tahu jawabannya ialah BERTOBAT. Pertanyaannya apakah kita memiliki kemauan kuat untuk melakukan pertobatan? Manakah yang lebih kuat roh atau daging? Di atas semua ini, pertobatan meminta pengorbanan dari pihak manusia.


Ketika Petrus berkeinginan untuk tinggal dalam kemuliaan TUHAN di atas gunung dengan mengusulkan untuk mendirikan tiga kemah: satu untuk Yesus, satu untuk Musa dan satu untuk Elia, Yesus mengajak mereka turun (bdk. Mat. 17). Saat turun, Yesus menegaskan kepada Petrus, Yakobus, dan Yohanes bahwa diriNya harus menderita sebelum dibangkitkan. Masih ada satu gunung yang harus Yesus lalui yakni gunung Kalvari tempat Ia disalibkan. Di sini, Yesus mau menunjukkan aspek korban yang harus dipenuhi untuk mencapai kemuliaan. Dengan kata lain, kemuliaan itu meminta pengorbanan.


Petrus gagal memahami proyek besar Allah yang harus dipenuhi oleh Yesus, PuteraNya. Ada dua kegagalan Petrus. Kegagalan pertama terjadi ketika Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor bahwa Ia tidak akan pernah menderita, apalagi dibunuh oleh imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat (bdk. Mat. 16:21-22). Bahwa Yesus harus menderita dan dibunuh oleh para pemuka umat tidak ada dalam pikiran Petrus. Mesias baginya ialah sosok yang diagungkan seperti seorang raja pada umumnya. Yang menarik ialah teguran Yesus kepada Petrus. Kepada Petrus dikatakan, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” (Mat. 16:23). Dari hardikan Yesus ini kita bisa menyimpulkan bahwa menghindari penderitaan dan kematian itu merupakan spirit dari Iblis, bukan spirit Allah. Petrus di sini gagal untuk menangkap bahwa jalan menuju kemuliaan ialah salib. Konsep Petrus mengenai kemesiasan Yesus dan salib masih sangat dipengaruhi oleh mentalitas zamannya. Mesias itu agung. Salib itu adalah aib. Yesus telah mengubah cara pandang ini. Mesias harus menderita. Salib adalah keselamatan dan jalan kemuliaan.


Kegagalan kedua Petrus ialah saat ia menyangkal Yesus sebanyak tiga kali (bdk. Luk. 22:55-62). Pada waktu Petrus menyangkal Yesus, Ia sedang berada dalam titik terendah hidupNya. Ia ditinggalkan oleh murid-muridNya. IbuNya, Maria, belum datang untuk menemani. Injil memang tidak menyediakan informasi mengapa Petrus menyangkal Yesus. Akan tetapi kita bisa mengira-ngira alasan mengapa Petrus menyangkal Yesus. Petrus memiliki konsep dan gambaran seorang Mesias itu seharusnya bagaimana menurut tradisi Yahudi. Mesias tidak mungkin ditangkap dan diadili apalagi dimaki, diludahi, dan ditempeleng mukanya. Sekarang, dengan mata kepala sendiri Petrus menyaksikan Yesus yang ia elu-elukan akan menjadi pembebas bangsanya dari penjajah Romawi ditangkap dan dihadapkan pada pengadilan. Penyangkalan pertama Petrus berbunyi, “Bukan, aku tidak kenal Dia!” (Luk. 22:57). Petrus memang tidak mengenal sosok mesias yang sedang dipertontonkan oleh Yesus. Mesias yang ia kenal tidak seperti itu dan mustahil seperti yang ditampilkan oleh Yesus. Sampai di sini, Petrus masih dikuasai oleh spirit Iblis. Spirit yang tidak mengenal penderitaan. Spirit yang tidak bisa menerima kekalahan dan kelemahan.


Masih mengenai Petrus. Kita bisa melihat perbedaan Petrus versi Injil dan versi Kisah Para Rasul. Kata kunci perubahan diri Petrus terletak pada kemauannya untuk bertobat; spirit Iblis tidak lagi menguasainya. Ke depannya Petrus sungguh-sungguh dijiwai dan dipenuhi oleh spirit Kristus yang telah bangkit. Kematian Petrus sudah diramalkan oleh Yesus. Ia akan mati seperti Gurunya, dengan cara disalib.


Sebelum menjadi gembala bagi domba-dombaNya, Yesus telah memulihkan kembali hidup Petrus sehingga imannya semakin teguh (bdk. Luk. 22:32). Dalam Injil Yohanes 21, Yesus bertanya kepada Petrus sebanyak tiga kali, “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” (Yoh. 21:15-17). Kata “mengasihi” yang digunakan oleh Yesus pada ay. 15 dan 16 ialah ἀγαπάω “mencintai”, sedang pada ay. 17 Yesus menggunakan kata φιλέω “mencintai”. Ada perbedaan antarkeduanya. Yang pertama lebih menunjuk pada kasih Allah terhadap manusia atau kasih manusia terhadap Allah, sedangkan yang kedua lebih dalam arti cinta antarmanusia. Dengan beralih dari cinta agape ke cinta filei, Yesus menyadari keterbatasan Petrus. Dengan ini, Yesus meminta Petrus untuk mengasihi diriNya sesuai yang ia mampu, mencintaiNya tanpa pamrih seperti seorang ayah terhadap anaknya, atau seorang suami terhadap isterinya.


Pertobatan kita, dengan demikian, harus membuat kita mampu mengasihi Yesus dengan menggembalakan domba-dombaNya dengan cara yang radikal dan kreatif. Santo Vinsensius menampilkan sebuah model pertobatan yang membuahkan kasih yang kreatif terhadap sesama. Apalagi yang harus kita perbuat selain melakukan pertobatan dan menghasilkan buah yang berlimpah, tiga puluh kali lipat, enam puluh kali lipat, dan bahkan seratus kali lipat (bdk. Mrk. 4:8).


Menghidupi Paskah di Tengah Wabah Covid-19


Sejauh ini kita sudah membahas makna Paskah bagi bangsa Israel dan dalam Perjanjian Baru. Paskah yang dimengerti sebagai momentum pembebasan bangsa Israel menjadi sarana bagi TUHAN untuk menyatakan diri dan kemuliaanNya. Selain itu, kebangkitan Kristus merupakan undangan bagi umat manusia untuk melakukan pertobatan. Pertanyaan kita di tengah wabah covid- 19 ini ialah apakah kehadiran dan kemuliaan TUHAN sungguh kita rasakan dan alami, dan apakah wabah ini merupakan peringatan dari TUHAN dan mendesak kita umat beriman untuk melakukan pertobatan?


Di tengah wabah covid-19, kehadiran dan kuasa TUHAN dipertanyakan. Pertanyaan yang pada umumnya terlontar ialah kapan wabah ini berakhir? Di mana TUHAN pada saat ini? Kalau TUHAN Mahakuasa mengapa Ia membiarkan wabah ini menyebar ke mana-mana? Fakta mengatakan bahwa wabah akibat covid-19 menimbulkan banyak penderitaan. Penderitaan karena ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintai, karena kehilangan pekerjaan, karena harus tinggal di rumah, karena semua acara yang telah direncanakan gagal, dll. Fakta pahit ini semakin membuat orang bertanya kemana TUHAN yang selama ini kita sembah?


Di sisi lain, kita masih bisa menyaksikan adanya secercah harapan di tengah wabah ini. Ungkapan-ungkapan yang muncul dan terlontar di bawah ini menunjukkan bahwa kita masih mempunyai harapan, “Corona berhenti sebelum paskah!” atau “Semoga sebelum Ramadhan, corona sudah berakhir!” Ada harapan bahwa TUHAN membebaskan umat manusia dari virus corona.


Wabah covid-19 merupakan tantangan bagi orang beriman apakah mereka merasakan dan mengalami kehadiran TUHAN dan melihat kemuliaanNya di balik peristiwa yang sedang terjadi. Yang jelas orang-orang beriman mempunyai tugas untuk menguatkan sesamanya yang lemah, seperti pesan Yesus kepada Petrus, “Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu” (Luk. 22:32). Saat ini, selain para medis yang adalah garda terdepan dalam memerangi virus corona, kaum beriman terutama biarawan-biarawati (dari semua agama) adalah garda terdepan penjaga iman supaya manusia tidak kehilangan iman mereka.


Sebagai orang beriman, kita percaya bahwa ketidakhadiran TUHAN yang dirasakan oleh beberapa atau mungkin banyak orang memiliki maksud. Sampai di sini kita tidak tahu secara pasti apa yang TUHAN kehendaki melalui peristiwa wabah covid-19 ini?


Persoalan berikut ialah apakah wabah covid-19 adalah peringatan dari TUHAN untuk melakukan pertobatan? Wabah ini terjadi di saat manusia mengagungkan dan menggaungkan revolusi industri 4.0; di mana-mana orang membicarakan, menyebutnya, seakan tidak valid bila dalam pidato atau kotbah hal ini tidak disitasi. Kemajuan yang paling signifikan dari revolusi industri 4.0 ini ialah manusia bisa menjadi allah, manusia-allah. Manusia bisa memperpanjang umurnya, ia bisa menunda kematian, bahkan ia bisa membuat manusia tidak mati. Sayangnya, sampai detik ini, belum ada manusia yang menemukan vaksin untuk menangkal virus corona. Di mana engkau yang menyebut diri sebagai allah?


Wabah covid-19 yang penyebarannya sangat cepat dan mematikan memaksa manusia untuk berlutut mengakui ketidakberdayaannya. Ada ungkapan yang menarik, “Dengan physical distancing manusia diminta untuk mengambil jarak dengan manusia lain, tetapi pada saat yang sama manusia diminta untuk mendekatkan diri pada TUHAN.” Di balik seloroh ini ada pesan yang mendalam bagi kita semua. Selain itu, stay at home memberikan manusia waktu yang banyak untuk saling mendekatkan diri dengan keluarga, dan dengan TUHAN. Pada waktu yang bersamaan dengan anjuran untuk stay at home, kita bisa melihat adanya perubahan di sekeliling kita. Langit yang tadinya tidak cerah, sekarang menjadi bersih-biru, penyu-penyu yang tidak pernah kelihatan di pantai, sekarang memenuhi pantai, dll.


Karena itu, sungguh masuk akal, pada kesempatan Misa Pontifikal Minggu Paskah, dalam kotbahnya Kardinal Ignatius Suharyo mengajak umat untuk melakukan pertobatan ekologis. Ia melihat wabah covid-19, salah satu penyebabnya, ialah “dosa ekologis” yang telah dilakukan oleh manusia. Dalam kotbahnya, ia menjelaskan kaitan antara “dosa ekologis” dengan wabah virus corona:


Yang dimaksudkan kira-kira begini; karena manusia telah merusak tatanan dan harmoni alam, perusakan alam itu membuat alam tidak seimbang lagi dan ini mempunyai akibat yang sangat luas dan beragam, misalnya pemanasan bumi, perubahan iklim, polusi yang mengotori semua elemen alam di darat, di laut, di udara dan munculnya berbagai penyakit baru.

Kardinal Ignatius Suharyo


Menanggapi seruan Kardinal Suharyo, mulai sekarang kita perlu menanamkan dan memupuk kepekaan kita akan kelestarian alam (ekologi). Syukur-syukur jika ke depan kita bisa mengembangkan Eco-theology di tempat-tempat pembinaan para calon imam/suster/biarawan- biarawati (bdk. FABC on “Awakening Climate Change Concern in Seminaries” yang diselenggarakan di Thailand).


Pada akhirnya, pemahaman kita mengenai makna Paskah setidak-tidaknya bisa membantu umat beriman untuk menghidupi Paskah yang sama di tengah wabah covid-19 dengan penuh harapan bahwa wabah akan berlalu dan nama TUHAN semakin dimuliakan oleh seluruh bangsa. Sebagai orang beriman kita juga mesti melihat bahwa TUHAN hadir dan berkarya baik pada saat suka maupun duka. Baik suka maupun duka mesti dipandang dan dimaknai sebagai undangan TUHAN bagi umat manusia untuk melakukan pertobatan: sosial dan personal.


Malang, 18 April 2020

#selamatpaskah2k20 #dirumahaja