MEREKA AKAN MENAMAKAN-NYA IMANUEL ! ~ MATIUS 1: 23

0
635

Webinar dalam rangka menyambut Natal 2020

Tema yang dipilih oleh PGI-KWI sangat cocok disuguhkan di tengah pandemi COVID-19 ini. Merayakan Natal di tengah pandemi covid berarti merayakan “Tuhan yang menyertai kita”. Pandemi yang tengah terjadi ini menyadarkan manusia akan kehidupannya. Banyak peristiwa yang mengguncang kehidupan manusia. Situasi pandemi ini menyadarkan manusia bahwa dirinya sungguh rentan dan mudah jatuh pada egoisme. Manusia serasa menjadi bukan siapa-siapa di hadapan COVID-19. Akhirnya ia pun kembali memohon kepada Allah dan berpaling dari perilaku-perilaku kedagingan mereka guna mendapat perlindungan dari Allah sendiri.

Dua hal pokok yang perlu diperhatikan dalam menyambut kelahiran Yesus Kristus Sang Juruselamat, terutama di tengah pandemi ini, adalah (1) melihat bagaimana kita memahami makna Imanuel dan (2) menyadari bahwa keheningan adalah arti Natal yang sesungguhnya. Tema Natal tahun ini merupakan tanggapan atas banyak pengalaman yang kita alami di pandemi ini lagi. Ketakutan, kekahwatiran, keputusasaan seringkali membuat kita egois dan menurut diri sehingga tema ini justru mengundang kita untuh melihat diri kita kembali bahwa kerapuhan kita merupakan titik balik kita untuk bangkit.

Manusia yang terlanjur dikuasai oleh dosa ini tak mampu melepaskan diri dari jeratannya.

Rm. Handoko, CM

Kendati demikian, pandemi ini juga mengembalikan kesadaran bahwa ikatan manusia dengan sesamanya bukan berdasar dari suku, agama, ras, profesi, pendidikan, dan sebagainya, melainkan kemanusiaan-nya sendiri. COVID tidak memandang atribut-atribut semacam itu. Kesadaran ini menegaskan kembali bahwa kita semua adalah saudara. Inilah kesadaran fundamental martabat manusia.

Kesadaran ini pun mengatakan kepada kita manusia bahwa hidup sangatlah berharga. Maka dari itu, kita manusia membutuhkan pertolongan Allah. Usaha manusia semata tidak terlalu mampu melindungi dirinya sendiri, bahkan para dokter yang sedang berjaga pun juga beresiko terkena COVID itu, walaupun mereka telah berjaga-jaga. Di saat seperti itulah kita perlu menyadari dan rendah hati bahwa kita butuh Tuhan.

Hanya Allah saja mampu menjadi sumber pertolongan yang memadai, terutama untuk menghadapi COVID-19 ini. Sikap bangsa Israel yang dikisahkan dalam Perjanjian Lama bahwa sesungguhnya manusia membutuhkan Allah dalam hidupnya dan juga yang telah diserukan dan dipertegas oleh para nabi adalah cerminan dan hal yang perlu diperhatikan untuk meneguhkan iman umat saat ini yang mungkin tergoyahkan karena situasi yang mencekam ini.

Penyertaan konkrit Allah dalam hidup manusia nampak jelas dalam kehadiran Yesus Sang Juruselamat.

Rm. Handoko, CM

Dengan merayakan kelahiran Yesus, Sang Imanuel, dalam situasi COVID19 ini berarti menghadrikan Sang Terang dalam kegelapan. Merayakan Natal berarti mengingatkan kembali bahwa “Allah beserta kita”. Dia hadir di antara kita dan bekerja untuk kesembuhan kita semua secara lahir batin. Yesus memampukan kita mengatasi situasi keterpukuran ini, kelemahan-kelehaman kita, konflik-konflik yang muncul dalam hidup kita, egoisme, kecenderungan dosa kita, dan pada akhirnya mentransformasikan hidup kita.

Tidak hanya memampukan diri kita mengatasi kecenderungan-kecenderungan di atas, Yesus Kristus juga membantu kita untuk mempererat hubungan kita dengan sesama kita, terelbih yang menderita karena situasi pandemi ini. Allah yang menyertai kita juga harus berbuah dalam diri kita dengan hadir dan menyertai sesama kita. Inilah karya perutusan Gereja sebagai murid-murid Sang Imanuel yang berjalan keliling sambil berbuat baik (Kis 10:38).

Life after pandemic yang disuarakan oleh Paus mengajak para umat untuk memiliki harapan, tidak lagi cuek dengan sekitar, dan tidak lagi mengutamakan keselamtan diri sendiri.  Peristiwa Natal, peristiwa menyambut sang imanuel adalah sebuah perayaan misteri inkarnasi. Imanuel, yang berarti “Allah beserta kita”, mengajak kita untuk melihat kembali bagaimana Allah hadir dalam hidup kita. Allah seringkali hadir melalui jalan yang sederhana, melalui hal-hal yang kecil. Allah, dalam hidup Yesus, menghayati hidupNya dalam solidaritas bahkan memberi diri sangat dekat dengan kita sehingga Ia mencintai dan menerima kita apa adanya.

Merayakan kelahiran Sang Imanuel mengingatkan kita akan perutusan kita masing-masing untuk membawa pengalaman akan Allah yang beserta kita ke dalam situasi-situasi sulit di sekitar kita.

Rm. Handoko, CM

Allah yang mahakuasa, mahaagung, dan mahamulia itu menyembunyikan dirinya dalam rupa manusia dan bekerja secara tersembunyi (Filipi 2: 6-11).  Jalan Kehadrian Allah, terutama yang terpancar jelas dalam hidup Yesus, adalah jalan penderitaan. Selain itu, kehadiran Allah juga hadir dalam tindakan saling mengasihi. Salah satu halangan bagi manusia untuk mengasihi orang lain bahkan dirinya sendiri adalah ketakutan. Terkadang manusia terbatas dengan mengasihi sesama dengan yang sudah ia kenal saja.

Kita seringkali menutup diri dengan orang asing, bahkan mereka yang menderita sekalipun, selama kita tidak begitu mengenalnya, kita merasa enggan untuk mengasihi mereka.

Rm. Gigih, CM

Ketakutan semacam inilah yang membatasi manusia untuk menghidupi Allah yang menyertai hidup mereka. Natal tahun ini tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tidak semeriah dan semegah tahun-tahun sebelumnya. Natal tahun ini begitu hening. Namun, justru itulah makna Natal yang sesungguhnya. Oleh karena pandemi ini , berbagai kegiatan seolah terhenti, peristiwa-peristiwa sedih senantiasa membanjiri feeds kehidupan kita, mengisolasi diri di rumah, membatasi kontak dengan sesama secara fisik terlepas dari anggapan bahwa itu adalah bentuk kesombongan dan sebagainya, kita diajak untuk kembali menumbuhkan pengharapan dalam hidup kita yang sebelum ini mungjkin hanya mendapat porsi kecil dalam kehidupan beriman kita karena keyakinan absolut kita terhadap penjagaan Allah bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sehingga akhirnya kita lengah karena menganggap tanpa memiliki pengharapan yang besar pun Allah senantiasa mendengarkan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita.

Kita terlena dengan euforia Natal yang megah dan meriah, tapi kita lupa akan kesunyian yang Allah alami sendiri ketika berinkarnasi dalam diri Yesus yang terbaring di palungan.

Rm. Gigih, CM

Pandemi ini juga mengajak kita semua untuk bertobat dengan menjadi sahabat bagi sesama kita, menyebarkan kasih terhadap sekitar kita, dan membangun hidup bersama. Kita diajak untuk membangun relasi yang intim dengan Allah melalui doa-doa kita, melalui sakramen, melalui kepedulian kita terhadap sesama kita.

Kita juga perlu bersaksi tentang belas kasihan dan kemurahan Allah dengan menolong sesama kita, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, terutama yang menjadi korban, bersama pemerintah dan semua pihak kita bekerja keras untuk memerangi pandemi ini. Mari kita mempertajam kesadaran bahwa melalui pandemi covid19 ini Allah terus-menerus mengajar kita hikmah-hikmah ilahi dan membukan diriNya kepada kita. Hendaklah kita tidak terpancang pada penderitaan dan kesulitan yang kita hadapi, tetapi mencari dan menemukan hikmat kebijaksanaan yang diajarkan Allah.

Semoga sukacita Natal senantiasa melingkupi diri kita, keluarga kita, lingkungan sekitar kita, dan semua orang yang kita doakan dan mendoakan kita, serta seluruh umat manusia di bumi ini. Tuhan memberkati.

#vinsensianIndonesia

#visabisa

#vinsensianmuda

#SukacitaNataldiTengahPandemi2020