EVANGELIZARE PAUPERIBUS MISIT ME : HUT Kongregasi Misi ke-404 Tahun

0
1337

Oleh : Fr. Empi, CM

Bagi para Imam Vinsensian tanggal 25 Januari merupakan hari di mana mereka mengenang, merefleksikan, melihat kembali (katakanlah demikian) karena tanggal tersebut adalah hari jadi Kongregasi Misi. Tentu para Imam, Frater, dan Bruder CM ingat dengan persis kejadian di Folleville.

Pada tanggal yang sama 25 Januari 1617 Santo Vinsensius diminta untuk mendengarkan pengakuan dosa dari seorang petani. Ia adalah orang dianggap paling saleh oleh penduduk setempat. Setelah Vinsensius mendengarkan pengakuan dari sang petani itu ia merasa prihatin, sebab dosanya banyak dan berat. Sebelumnya petani itu tidak berani mengakui dosanya lantaran malu. Akhirnya sang petani merasa lega dan tenang, kemudian dirinya menceritakan itu semua kepada Ny. de Gondi lalu itu diceritakan lagi olehnya kepada Santo Vinsensius. “kalau orang yang dianggap saleh saja berdosa apalagi orang yang dianggap berdosa, semua jiwa akan masuk neraka” begitulah terang Ny. Gondi kepada Vinsensius setelah mendengar cerita dari petani yang telah menerima Sakramen Tobat. Hal yang kemudian dilakukan Vinsensius adalah berkhotbah di Folleville, saat itu bertepatan juga Pesta Bertobatnya Santo Paulus yang dirayakan oleh Gereja. Setelah berkhotbah, banyak umat berbondong-bondong datang untuk mengaku dosa. Hal serupa tidak hanya dilakukan di Folleville, tetapi juga di seluruh wilayah kekuasaan de Gondi. Bahkan Vinsensius sampai meminta bantuan kepada beberapa pihak imam karena banyaknya umat yang datang untuk dilayani. Folleville merupakan tonggak sejarah berdirinya Kongregasi Misi, meski resminya berdiri delapan tahun kemudian.

Folleville mempresentasikan kemiskinan secara rohani yang dialami oleh umat, itu terjadi karena mereka hidup tanpa Injil. Hal demikian terjadi karena para imam kala itu lebih memilih pelayanan di kota-kota daripada di pedesaan, dan kurangnya kapasitas imam dalam melayani sehingga pelayanannya dilakukan dengan tidak baik. Singkat kata, pendidikan imam yang tidak memadai.

Dimana kekuatan manusia berhenti, disitulah pertolongan ALlahmulai berperan. Dialah yang mengajari kita, yang menguatkan kita, yang menjadi segalanya bagi kita, dan Dia sendirilah yang menuntun kita kepada-Nya

St. Vinsensius de Paul – 23 Februari 1650

Untuk merayakan hari besar dalam tarekat, sebelum tanggal 25 Januari (sebagai acara puncak) para imam dan bruder biasanya berkumpul di suatu tempat untuk pertemuan dan membahas beberapa hal perihal laporan-laporan dan rencana-rencana provinsi yang akan datang. Kemudian baru pada tanggal 25 seluruh rangkaian acara syukur perayaan ditutup dengan Ekaristi dan ramah tamah di Provinsialat CM dengan mengundang Keluarga Vinsensian dan umat yang telah membantu Kongregasi Misi dalam melayani orang-orang miskin. Rangkaian acara yang demikian harus ditiadakan dahulu perihal pandemi Covid-19 yang masih membabi buta di bumi pertiwi Indonesia. Sebagai gantinya, masing-masing Domus merayakannya sendiri-sendiri.

Perayaan 404 Tahun CM di Seminari Tinggi CM, Badut.

Domus Malang merayakan hari besar ini di Seminari Tinggi CM, Badut dengan perayaan Ekaristi dan ramah tamah. Acara tersebut hanya diperuntukkan hanya keluarga besar Seminari Tinggi dan Para Suster Puteri Kasih Gempol, karena untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Perayaan Ekaristi dipersembahkan oleh Rm. Antonius Sad Budianto selaku Superior Domus Malang/Rektor Seminari Tinggi CM. Selain merayakan syukur atas hari jadi tarekat, kami juga merayakan syukur atas 25 tahun imamat Rm. Vincentius Yustinus CM, Rm. Robertus Wijanarko CM, Rm. Yohanes Kusno Bintoro CM. Juga syukur atas 25 tahun dalam CM yakni, Rm. FX. Kurniawan Madyo CM dan Rm. Thomas Hatmoko Lastari CM. Para yubilaris memberikan sharing sebagai ganti dari homili.

Semangat kerendahan hati terutama berarti menempatkan diri terus-menerus dalamkesanggupan untuk merendahkan diri tanpa henti dalam semua situasi, baik secara batiniah maupun secara lahiriah

SV I, 184 – 15 JANUARI 1633

Dengan perayaan yang sederhana ini tidak menghilangkan makna terdalam sebagai Vinsensian, yaitu untuk terus mewartakan kabar gembira kepada kaum miskin. Terlebih dalam situasi pandemi Covid-19 karya pewartaan tetap dapat dilakukan yang terwujud secara virtual. Layaknya Santo Vinsensius yang berusaha dengan total demi keselamatan jiwa-jiwa, maka seorang Vinsensian perlu untuk rendah hati mendengarkan suara Tuhan yang terwujud melalui situasi konteks yang sedang terjadi dan mendengarkan pendapat dari pihak-pihak tertentu yang ikut serta dalam pelayanan terhadap kaum miskin. Dengan demikian mereka yang terabaikan dapat tertolong dan terlayani secara afektif dan efektif.

Para romo dan frater berfoto di depan photobooth 404 Tahun CM

#visabisa

#VinsensianIndonesia

#VinsensianMuda