BERSUKACITA DALAM PERTOBATAN

0
880

Minggu Prapaskah ke IV (Minggu Laetare)

2Taw. 36:14-16,19-23; Mzm. 137:1-2,3,4-5,6; Ef. 2:4-10Yoh. 3:14-21.

Oleh: Fr. Kristian Asmara Tungga, CM

Minggu ke IV masa Parpaskah dinamakan Minggu Sukacita (Minggu Laetare). Kita mungkin bertanya apa hubungan sukacita dengan masa pertobatan? Minggu ini didedikasikan secara khusus untuk mengajak orang Kristiani menjalani masa tobat dengan hati gembira. Artinya, pertobatan dijalani secara tulus dan ikhlas atau menjalani tobat dan pantang tidak dengan terpaksa serta tidak menjadi beban.

Masa pertobatan merupakan masa dimana kita menerima kasih Allah yang melimpah dalam hidup kita. Pada Masa pertobatan ini kita juga diajak untuk mensyukuri kasih Allah yang diselenggarakan-Nya dalam hidup kita sehari-hari. Maka, pada Minggu Laetare ini kita diajak untuk bersukacita “karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16).

Masa pertobatan adalah masa sukacita. Sebab pada masa pertobatan ini kita diberi rahmat untuk menanggalkan nafsu yang menyesatkan, supaya kita dibaharui di dalam roh dan pikiran kita, serta mengenakan manusia baru yang diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Ef 4:22-24). Nafsu yang menyesatkan menjadikan manusia egois, pemarah, pendengki, dan iri hati (Gal 5:19-21). Nafsu itu membuat manusia tidak dapat hidup dalam kasih Allah. Sebab, sikap egois membuat manusia menutup dirinya untuk menjadi saluran kasih Allah bagi orang lain.

Sikap pemarah membuat manusia tidak mampu memancarkan kelembutan hati Allah kepada orang-orang di sekitarnya. Sikap dengki dan iri hati membuat manusia tidak mampu melihat kebaikan atau kasih Allah yang tersalur dari orang lain. Manusia dapat terbebas dari nafsu yang menyesatkan jika ia mau menerima dan membuka diri bagi Roh Allah, sehingga hidup dan kehadirannya memancarkan kasih Allah.

Pengalaman bangsa Israel dalam bacaan pertama (2 Taw 36:14-16,19-23) memperlihatkan kepada kita bahwa Allah selalu mengirim utusan-Nya untuk mengingatkan manusia agar hidup sesuai dengan jalan-Nya, namun seringkali manusia menolak-Nya. Walaupun demikian Allah tidak meninggalkan manusia seperti gembala meninggalkan kawanannya. Allah selalu mencurahkan rahmat keselamatan bagi manusia. Sebab, Dia adalah Gembala yang baik yang selalu berusaha mencari domba-domba-Nya yang tersesat (Luk 15:1-7).

Allah selalu membimbing manusia untuk hidup sesuai dengan firman-Nya yaitu hidup dalam kasih. Kasih Allah itu sungguh nyata dalam diri Yesus Kristus yaitu firman yang menjadi manusia dan tinggal di antara kita (Yoh 1:14). Yesus datang ke dunia agar mereka yang percaya kepada-Nya dapat beroleh hidup kekal (Yoh 3:16-17). Supaya Ia menjadi terang yang menuntun manusia untuk hidup di jalan yang benar (Yoh 3:19-21). Inilah sumber sukacita kita sebab Allah selalu memberikan kasih-Nya kepada kita.

Apakah di saat yang sulit ini kita tetap dapat bersukacita?, sebab kita mengingat banyak sekali orang yang menderita karena pandemi Covid-19. Sukacita kita dalam masa pandemi ini dan juga dalam masa pertobatan ini adalah terletak dalam kesempatan kita untuk berbela rasa dengan mereka yang sangat menderita. Berbela rasa menjadi sumber sukacita kita semua. Berbela rasa yang paling konkret pada masa pandemi ini adalah melaksanakan protokol kesehatan yang disebut 3M yaitu menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Dalam masa prapaskah ini kita juga diajak untuk berbela rasa dengan mereka yang menderita melalui doa, mati raga (puasa dan pantang), dan amal kasih. Tiga hal itu adalah senjata untuk melawan rasa putus asa karena penderitaan yang diakibatkan Covid-19. Rasa putus asa merupakan cara setan untuk menjatuhkan kita. Maka, marilah kita selalu berdoa, bermati raga, dan beramal kasih dengan sukacita sehingga kita memperoleh kekuatan dari Tuhan untuk menjalani kehidupan ini. Tuhan memberkati kita.

#VinsensianIndonesia

#visabisa