HADIR DAN BERBUAH

0
774

Minggu Palma, 28 Maret 2021

Yes. 50:4-7;  Flp. 2:6-11; Mrk. 14:1-15:47.

Oleh: Fr. Bonifasius Nico Prasetya, CM

Yesaya hadir sebagai pribadi yang dipilh oleh Allah untuk memberikan kabar gembira kepada semua orang. Ia tampil sebagai manusia yang diperlengkapi rahmat dan anugerah oleh Allah dalam segenap kelemahannya. Kita sebagai manusia yang dipanggil menjadi murid-murid Kristus juga didorong untuk terlibat aktif dalam pewartaan kabar gembira. Terlibat aktif berarti menggunakan segala apa yang kita miliki untuk mendatangkan kebaikan bagi orang-orang di sekitar kita.

Yesaya tampil sebagai pribadi yang ikut ambil bagian dari karya kasih Allah. Segala apa yang dimilikinya dipersembahkan kepada Allah. Ia hadir bagi banyak orang dan berbuah. Buah-buah itu tampak pada ucapannya yang memberikan semangat baru bagi orang lain. Yesaya yang adalah manusia lemah menjadi kuat oleh karena Allah yang menopang. Yesaya tidak berhenti pada kesadaran akan kelemahannya tetapi ia beranjak dan percaya bahwa ia adalah hamba dari Ia yang Maha Kuat. Oleh sebab itu ia yakin bahwa ia tidak akan mendapat malu.

Berangkat dari peristiwa Yesaya, kita sebagai umat Allah disadarkan betapa pentingnya sadar akan Allah yang menaungi, memelihara, dan menjaga. Kehadiran kita sebagai murid-murid Kristus diharapkan bisa berbuah bagi orang-orang di sekitar kita. buah-buah itu bisa berupa perkataan yang sopan, baik, dan penuh kasih kepada sesama sehingga setiap orang yang mendengarnya memperoleh penghiburan. Tetapi pada jaman sekarang, orang lebih memilih gosip (ngerasani) daripada menebarkan kata-kata yang baik.

Perbuatan yang demikian contoh dari murid yang hadir namun tidak berbuah seperti Tuhan Yesus Kristus. Itu sama halnya dengan orang gusar di dalam Injil pada hari ini. Orang-orang itu menjadi gusar ketika melihat seorang perempuan membawa suatu buli-buli pualam berisi minyak narwatsu murni yang mahal harganya untuk meminyaki kepala Yesus. Orang-orang gusar itu bisa dikatakan sebagai gambaran dari pribadi manusia yang lebih berfokus pada apa yang duniawi sehingga  ia melupakan persembahan yang terbaik bagi Tuhan.

Sikap semacam itu juga seringkali ada pada diri kita. Kerapkali kita lebih berfokus pada kepentingan kita pribadi dan menunda-nunda untuk membangun relasi yang dekat dengan Allah seperti berdoa dan membantu sesame yang berkesusahan. Akibat dari itu semua kita menjadi pribadi yang hadir tapi tidak berbuah. Perjalanan panggilan saya sebagai calon Imam Vinsensian juga merupakan perjalanan untuk membina diri agar saya bisa hadir dan berbuah.

Melalui Latihan-latihan rohani dan pastoral saya diajarkan tentang kesetiaan di dalam relasi yang dekat bersama Tuhan. Meskipun dalam prakteknya saya juga tidak lepas dari rasa bosan dan malas. Tetapi itulah diri yang berjuang menghidupi kesetiaan. Diri yang setia itu nyata dalam ketekunan untuk melakukan kebaikan meskipun itu berat. Kesetiaan bukanlah hal yang selalu membahagiakan tetapi itu merupakan perjuangan untuk senantiasa mencintai dan bahagia kepada kebaikan.

Rasa bosan dan malas dalam menghidupi kesetiaan itu merupakan perjuangan hidup secara terus menerus. Dua hal itu bukan hal yang harus dihindari tetapi diolah dengan tindakan kreatif yang senantiasa membangkitkan semangat untuk tetap memeluk kesetiaan itu. Seperti Yesaya yang dengan segenap kelemahannya ia percaya dan tidak berpaling dari Tuhan, melainkan tetap setia serta mempersembahkan yang terbaik kepada Tuhan.

Kristus hadir dan berbuah bagi banyak orang. Kehadiran-Nya adalah gambaran kesetiaan Sang Ilahi untuk mengasihi manusia. kita sebagai manusia senantiasa didorong untuk tetap setia. Setia untuk hadir dan berbuah bagi banyak orang di dalam Yesus Kristus Tuhan kita. semoga melalui permenungan ini kita semua dapat semakin mengerti tentang kesetiaan yang bersumber pada Kristus sendiri.

#VinsensianIndonesia

#visabisa