
Oleh: Rm. Fransiskus Xaverius Armada Riyanto, CM
Lukisan cukup besar di kapel lantai satu Maison Mère, Paris, perancis (Rumah Induk CM) itu menggambarkan Santo Vinsensius a Paulo yang dikelilingi oleh para konfrater dengan lilin lilin yang bernyala. Apakah gerangan maksudnya?
Itu adalah lukisan kematian Vinsensius. Wajah Santo Vinsensius nampak damai, tersenyum, penuh iman, harapan, dan kasih. Ia sedang berserah diri kepada Kristus. Sementara wajah para konfrater nampak tertunduk dalam doa dan menahan kerinduan akan Santo Pendiri-nya.
Apa arti lilin lilin bernyala itu? Lilin bernyala menandakan Kristus yang bangkit dan hidup kembali. Itu lilin Paskah Tuhan. Santo Vinsensius dalam momen wafatnya adalah Santo Vinsensius yang memasuki Paskah abadi Kristus yang telah dia abdi dengan sepenuh hati, jiwa, dan seluruh hidupnya. Kematian tidak memadamkan api semangat Santo Vinsensius. Api kharisma itu tetap bernyala di dalam diri para muridnya, para konfraternya.
Api itu tidak bernyala membakar hebat, tetapi menghadirkan cahaya. Cahaya itu menebarkan terang yang menghalau kegelapan. Persis, sebagaimana Injil Kristus, yang adalah Kabar Sukacita, menghalau kegelapan hati manusia yang merindukan Sabda Allah.
Lilin lilin bernyala itu dipegang oleh para konfrater. Benar, kharisma Santo Vinsensius kini ada di tangan tangan para konfrater. Di mana pun ditugaskan, bagaimana pun kondisi dan situasinya, semoga tangan tangan kita tetap memegang erat lilin lilin yang bernyala, untuk memberi cahaya kepada sesama, terutama yang miskin dan menderita.



