Kisah Suhardin, Penyintas Tsunami Palu
“Ketika ombak mengambil hampir segalanya, Tuhan menghadirkan orang-orang yang mengembalikan harapan.”

Tanggal 28 September 2018 menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh Suhardin dan ribuan warga Palu. Menjelang petang, sekitar pukul 17.02 WITA, bumi berguncang hebat. Gempa berkekuatan Magnitudo 7,5 mengguncang Kota Palu dan Donggala, disusul gelombang tsunami dan likuefaksi yang meluluhlantakkan ribuan rumah serta merenggut banyak nyawa.
Saat bencana terjadi, Suhardin tidak berada di rumah. Ia sedang mengikuti persiapan acara di tengah kota Palu. Di rumah, istri, anak-anaknya, dan ayahnya berada dalam ancaman maut. Ketika menyadari apa yang sedang terjadi yaitu gempa, ia berlari sekuat tenaga menuju rumahnya. Dalam kepanikan, ia hanya memikirkan satu hal: menyelamatkan keluarganya. Di tengah kekacauan itu, ayahnya sempat terseret arus tsunami hingga ke tengah laut. Sebuah peristiwa yang hampir merenggut nyawanya. Namun, oleh penyelenggaraan Tuhan, seluruh anggota keluarganya akhirnya berhasil selamat.
Meski demikian, keselamatan itu harus dibayar dengan kehilangan yang sangat besar. Rumah mereka hancur. Bengkel motor kecil yang selama ini menjadi sumber penghidupan keluarga juga lenyap disapu air. Dalam sekejap, semua yang dibangun selama bertahun-tahun hilang. Suhardi mengaku pernah berada pada titik di mana ia merasa tidak lagi memiliki harapan. “Saya bingung harus memulai dari mana. Rumah tidak ada, usaha tidak ada. Rasanya masa depan keluarga ikut hanyut bersama tsunami.” Namun, Tuhan ternyata belum selesai menulis kisah hidupnya. Pada tahun 2021, harapan baru datang melalui Program 13 Houses Alliance yang didukung oleh Serikat Sosial Santo Vinsensius (SSV) Indonesia. Melalui program tersebut, sebuah rumah baru dibangun bagi keluarga Suhardin.
Bagi orang lain, rumah itu mungkin hanya sebuah bangunan. Tetapi bagi Suhardin, rumah itu adalah tanda bahwa Tuhan belum meninggalkan keluarganya. Ia menyebutnya sebagai rumah impian, tempat keluarganya dapat memulai kembali kehidupan dengan penuh harapan. Rumah itu masih berdiri kokoh hingga hari ini. Ada satu kenangan yang sangat ia syukuri. Ketika ayahnya akhirnya meninggal dunia beberapa tahun kemudian, beliau dapat menghembuskan napas terakhir di rumah miliknya sendiri. Bagi masyarakat Suku Kaili, meninggal di rumah sendiri memiliki makna yang sangat mendalam sebagai sebuah kehormatan dan berkat bagi keluarga.
Kini kehidupan Suhardin telah berubah. Perlahan-lahan ia bangkit secara ekonomi. Dari seseorang yang kehilangan rumah dan mata pencaharian, kini ia dipercaya menjadi Manajer Sales di sebuah perusahaan sepeda motor. Keempat anaknya dapat kembali bersekolah dengan baik, sementara keluarganya hidup lebih tenang dan penuh harapan. Dengan penuh syukur, Suhardin mengenang semua pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan pemulihan keluarganya. “Terima kasih kepada SSV Indonesia dan Program 13 Houses Alliance. Rumah ini bukan hanya memberi kami tempat tinggal, tetapi juga mengembalikan harapan, martabat, dan masa depan keluarga kami. Kami percaya bahwa Tuhan bekerja melalui tangan-tangan orang yang peduli.”
Kisah Suhardin mengingatkan kita bahwa membangun sebuah rumah bukan sekadar mendirikan dinding dan atap. Membangun rumah berarti membangun kembali kehidupan, memulihkan martabat manusia, dan menyalakan kembali harapan yang hampir padam. Sebab pada akhirnya, sebuah rumah bukan hanya tempat untuk tinggal, melainkan tempat di mana iman, kasih, dan harapan dapat bertumbuh kembali.
Tim Sekretariat CM


